Monday, December 28, 2009

Sherlock Holmes The Movie


Awww....baru tahu klo ada film ini..!! Masih tayang di Barat sono, ga tahu kapan diimport ke Indo. Penasaraaaaannn yang pasti. Klo liat dari reviewnya sih sepertinya keren abisss..
Walopun bukan penggemar berat Sherlock Holmes, tapi saya cukup mengikuti serialnya. Nah, cerita film ini diambil dari serial yang mana ya??
Saya selalu penasaran dengan visualisasi Sherlock dari buku ke dunia nyata. Ternyata aktor yang dipilih untuk menjadi Sherlock adalah Robert Downey Jr. Hmm...klo dari tampilan fisiknya si saya agak kecewa karena tampaknya tu Sherlock agak 'slengean'. Sebab yang saya bayangkan selama ini Sherlock itu super cool, super necis, super wibawa gitu deh. Makanya pas liat ada nama Jude Law di film ini saya kira dia yang jadi Sherlocknya..hehehe. Tapi gapapa lah, Watson yang selama ini saya bayangkan ternyata lebih keren (karena Jude Law yang memainkannya..^^). Belum bisa komentar banyak soale belum nonton. Can't wait..>.<

Starred by : Robert Downey Jr, Jude Law, Rachel McAdams, Mark Strong
Directed by : Guy Ritchie

Buat yang penasaran, bisa klik http://www.flixster.com/movie/sherlock-holmes

Monday, December 21, 2009

Selamat Tahun Baru Islam 1431 H..!



Selamat Tahun Baru Islam 1431 H. Semoga semakin bersemangat memperbaiki diri dan bermanfaat bagi umat dengan terus berjuang dalam rangka menegakkan kembali sistem Islam yang akan kembali memuliakan manusia dan kembali menjadi pemimpin dunia..!

Thursday, December 17, 2009

Amerika Serikat: Decline or not Decline?



Wednesday, 16 December 2009 14:01


Jika Negara Superpower Amerika Serikat runtuh, apakah umat Islam bisa serta-merta menggantikannya?

Oleh: Alwi Alatas*

Kami tidak mengetahui mengapa tema tentang Amerika Serikat dan nasibnya ke depan sebagai pemimpin peradaban (bisa juga dibaca sebagai: polisi dunia) menjadi begitu menarik dibicarakan, khususnya dalam tiga bulan terakhir ini. Beberapa artikel yang dimuat dalam media-media ternama membahas tentang prospek kejatuhan dan keruntuhan Amerika Serikat sebagai sebuah superpower. Ada artikel yang menegasikan kemungkinan ini, tapi beberapa artikel lainnya memberikan afirmasi terhadap prospek keruntuhan Amerika Serikat. Sejarah tentunya tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga memahami masa lalu untuk ’membaca’ kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Oleh karena itu, kami memutuskan untuk mengangkat tema ini pada kesempatan kali ini.

Kita mengetahui bahwa Amerika Serikat mulai tampil sebagai kekuatan yang dominan di dunia sejak awal abad kedua puluh. Kedudukannya semakin kokoh menggantikan posisi Inggris dan Eropa secara umum setelah pecahnya Perang Dunia Pertama. Namun pasca Perang Dunia Kedua, kedigdayaan Amerika Serikat mendapat tantangan serius dari kekuatan komunis dunia yang dipimpin oleh Uni Soviet. Kemudian, selama beberapa dekade dunia terbelah ke dalam dua blok besar: Kapitalis dan Komunis. Periode ini kita kenal sebagai masa Perang Dingin. Namun, komunisme di Soviet akhirnya runtuh satu dekade menjelang berakhirnya abad kedua puluh. Sejak itu, Amerika Serikat tampil sebagai satu-satunya superpower. Negara-negara kecil terpaksa menurut pada tekanan Amerika jika tidak ingin menerima nasib buruk seperti segelintir negara yang berani menantang.

Apakah ini merupakan the end of history seperti dikatakan Fukuyama?





Keadaan ketika kapitalisme menjadi ideologi terakhir yang tak memungkinkan lagi terjadinya perubahan?. Akankah Amerika Serikat terus memimpin dunia, menjadi ’default power,’ meminjam istilah Josef Joffe, tanpa ada negara lain yang bisa menggantikannya memimpin peradaban? Mari kita akan lihat persoalan ini lebih mendalam.

Kepemimpinan Amerika Serikat dalam peradaban dunia sebetulnya merupakan bagian dari mata rantai kepemimpinan masyarakat Barat yang secara umum bisa dibagi dalam tiga periode. Pertama, era kebangkitan pertama peradaban Barat, berlangsung sejak jatuhnya Granada tahun 1492 – walaupun ketika itu peradaban Islam masih cukup kuat diwakili oleh Turki Utsmani, tapi kira-kira setengah abad kemudian Turki mulai mengalami kemerosotan. Pada masa ini peradaban Barat dipimpin oleh Spanyol dan Portugis dengan semangat utama yang bersifat spiritual dan keagamaan (Katolik). Periode kedua, kedudukan Spanyol-Portugis digantikan negeri-negeri Eropa yang berada di Utara (Inggris, Prancis, Belanda) dan bersifat sekuler. Pada periode kedua ini Eropa mencapai puncak kebudayaannya, khususnya pada abad kesembilan belas. Kebudayaan dan seni berkembang pesat, pemikiran dan filsafat (termasuk ideologi) mencapai puncaknya, Ilmu pengetahuan dan rasionalisme mewakili wajah peradaban Barat, kemakmuran juga mengalir ke negeri-negeri mereka.

Periode ketiga, kedudukan Eropa mulai digantikan Amerika Serikat hingga sekarang ini. Walaupun merupakan bagian dari peradaban Barat, tapi karakter yang dimilikinya berbeda. Amerika Serikat merupakan kekuatan yang pragmatis dan lebih menonjol dalam hal militer. Ia tidak berbudaya dan berseni sebagaimana halnya Eropa pada masa keemasannya. Kedudukan Amerika Serikat dibanding Eropa, meminjam kata-kata Max I Dimont dalam Jews, God, and History, seperti kedudukan Romawi kuno dibanding Yunani kuno. Romawi yang kuat secara militer tampak seperti raksasa yang bodoh bagi Yunani yang berseni dan berbudaya. Seperti itulah Amerika Serikat dimata sebagian kalangan di Eropa.

Sementara itu, peradaban Islam pada masa jayanya juga bisa dibagi dalam tiga periode. Karakter pada masing-masing periode tersebut memiliki beberapa kemiripan dengan yang ada pada peradaban Barat, walaupun tentu saja tidak sama persis. Periode pertama yang diwakili Khulafa al-Rashidin merupakan periode yang bersifat spiritual – tetapi spiritualisme dalam sejarah Islam ini memiliki karakter dan pengaruh yang sangat berbeda dengan apa yang terjadi pada peradaban Barat. Periode berikutnya, yang mencapai puncaknya pada zaman Bani Abbasiyyah, merupakan masa berkembangnya kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Buku-buku asing diterjemahkan dan dikembangkan oleh para ilmuwan Muslim.

Kemudian masuklah peradaban Islam pada periode ketiga yang dipimpin oleh Turki Utsmani. Turki Utsmani merupakan peradaban yang bersifat praktis dan kuat secara militer. Namun, setelah mencapai puncaknya pada pertengahan abad keenam belas, ia mulai mengalami penurunan. Posisinya mulai digantikan oleh peradaban Barat. Adakah Amerika Serikat dalam mata rantai peradaban Barat memiliki posisi yang sama dengan Turki Utsmani pada peradaban Islam? Adakah kekuatannya akan mengalami penurunan setelah ini, kemudian menjadi the sick man of the West, dan pada akhirnya mengalami disintegrasi yang serius dan bubar? Hanya sejarah yang bisa menjawab pertanyan ini nantinya.

Berbicara tentang kemungkinan disintegrasi Amerika Serikat, harian Kompas pada 12 Oktober 2009 lalu mengangkat sebuah tulisan berjudul ”Krisis di AS Picu Pemisahan.” Artikel itu menyebutkan protes sebagian masyarakat terhadap krisis ekonomi yang serius di Amerika Serikat dan keinginan mereka untuk memisahkan diri dari federasi. Krisis keuangan di AS telah menyebabkan banyak perusahaan besar runtuh dan banyak warga kehilangan pekerjaan. Sikap pemerintah pusat yang lebih berpihak pada perusahaan-perusahaan besar serta keputusan mereka untuk terus membiayai perang di Afghanistan dianggap oleh sebagian warga sebagai hal yang tidak bertanggung jawab. Mereka merasa kebijakan pemerintah AS sedang menggiring negara itu pada kehancuran. ”Emporium itu (AS, pen.) sedang ambruk,” kata Thomas Naylor, profesor ekonomi yang sudah pensiun dan kini memimpin gerakan Republik Vermont kedua. ”Apakah Anda ingin turut serta ambruk bersama Titanic atau mencari jalan alternatif selagi kesempatan masih ada?”

Kirkpatrick Sale, pemimpin sebuah lembaga studi yang mendalami isu separatisme, juga mengakui bahwa keinginan memisahkan diri dari pemerintah pusat serta aksi pembangkangan terhadap peraturan pusat pada waktu-waktu belakangan ini lebih serius dibandingkan pada tahun 1865. Isu pemisahan memang sedang bergema, redaktur pelaksana Fort Worth Star-Telegram, JR Labbe, menyatakan hal yang senada. Walaupun hal ini ditolak oleh Lyn Spillman, namun pihak yang mendukung separatisme yakin bahwa pemisahan diri merupakan pilihan terbaik yang perlu diambil oleh negara-negara bagian agar mereka tidak ikut runtuh bersama pemerintah pusat. Dikatakan bahwa setidaknya ada sepuluh negara bagian yang memiliki kecenderungan semacam ini.

Tiga hari sebelumnya (9 Oktober 2009), Kompas juga mengangkat persoalan ekonomi yang sangat mendalam di Amerika Serikat. Hal Ini boleh jadi akan membawa pada kehancuran negeri Paman Sam itu. AS memiliki hutang yang terlalu besar dan difisit ekonomi yang dialaminya demikian tinggi pada tahun 2009. Pemerintah Obama mencanangkan ekonomi akan pulih dan akan mengalami pertumbuhan 4 persen setelah 2010. Tapi tidak semua ekonom AS bersikap seoptimis ini. Sebagian merasa resesi ekonomi AS terlalu dalam dan cepat atau lambat krisis lanjutan akan kembali terjadi. John Glemp dari Global Policy Forum menyatakan bahwa masalah ekonomi AS bukan hanya defisit keuangan, tetapi juga hutang yang menumpuk dan melebihi kemampuan AS sendiri dalam menanggung bebannya. Terkait dengan persoalan ekonomi ini, Richard Duncan yang pada tahun 2003 menerbitkan buku berjudul The Dollar Crisis meramalkan bahwa AS akan mengalami kejatuhan seperti halnya Roma dulu.

Namun, tidak semua orang setuju dengan pandangan yang pesimistis ini. Josef Joffe dalam tulisannya di foreign Affairs edisi September/Oktober 2009 mempertanyakan ramalan tentang keruntuhan AS. Dalam tulisannya yang berjudul Default Power ia menyatakan bahwa ide tentang keruntuhan Amerika merupakan ramalan yang salah (false prophecy). Pesimisme semacam ini telah muncul pada setiap dekade sejak tahun 1950-an, mulai dari shock yang ditimbulkan oleh keberhasilan Soviet meluncurkan Sputnik, pidato Jimmy Carter soal malaise yang menimbulkan krisis kepercayaan masyarakat AS, hingga ramalan sejarawan Yale, Paul Kennedy, pada akhir 1980-an yang memprediksikan keruntuhan AS disebabkan perluasan berlebihan diluar negeri dan pemborosan di dalam negeri. Tapi, bantah Joffe, semua itu tidak terbukti. Amerika hingga sekarang ini masih digdaya, bahkan semakin tak terbendung pengaruhnya sejak keruntuhan Soviet.

Siapa penggantinya?

Jika Amerika Serikat runtuh, negara mana yang siap untuk menggantikannya? Banyak orang menyatakan Cina, Uni Eropa, atau Rusia siap untuk tampil kemuka menggantikan AS. Tapi data-data yang ada, menurut Joffe, sama sekali tidak mendukung hal tersebut. Joffe mengajukan data-data bahwa AS masih jauh lebih unggul dibandingkan pada kandidat pesaingnya setidaknya dalam beberapa aspek kunci: ekonomi, diplomasi, militer, serta edukasi.

Ia menolak anggapan bahwa ekonomi AS, terlepas dari krisis yang dialaminya, akan tersusul oleh Cina atau yang lainnya dalam waktu dekat ini. Ekonomi AS bernilai $ 14,3 triliun, tiga kali lipat lebih besar Jepang yang berada di posisi kedua. Bahkan jika ekonomi empat kompetitornya – Jepang, Cina, Jerman, dan Perancis – digabungkan, AS hanya kalah sedikit saja. Joffe tidak bisa paham bagaimana Cina yang pendapatan perkapitanya hanya $ 2.900 dikatakan akan mampu menyusul AS yang pendapatan perkapitanya $ 47.000. Sebuah negara tidak semata-mata menjadi lebih kaya atau lebih kuat hanya dengan menambahkan 1,3 milyar penduduknya yang miskin, sindir Joffe.

Kalaupun pertumbuhan ekonomi Cina sempat mencapai angka dua digit dan karenanya diramalkan akan menyebabkan negeri tirai bambu ini pada akhirnya menyusul AS, Joffe tidak terlalu yakin Cina siap menggantikan AS. Cina terlalu bergantung pada ekspor – sementara yang diekspor kebanyakan bukan barang-barang berteknologi tinggi – dan rentan terhadap penurunan ekonomi dunia. Dengan mempertahankan pertumbuhannya, ekonomi Cina memang akan menyusul AS, tapi ia bakal terlanjur tua sebelum menjadi kaya.

Pengeluaran militer AS juga jauh melampaui negara-negara pesaingnya. Pada tahun 2008, AS membelanjakan $607 miliar di bidang pertahanan, hampir separuh dari total pengeluaran militer dunia. Belanja militer Cina kurang sepertujuh dari yang dikeluarkan AS. Uni Eropa juga tidak mampu menandingi Amerika dalam persoalan ini. Angkatan laut AS juga terlalu besar untuk disaingi negara-negara lainnya. Pada tahun 2005, jumlah kapal pada angkatan laut AS dalam ton melampaui tujuh belas pesaing terdekatnya digabung jadi satu.

AS juga memiliki visi dan semangat yang memadai dalam mengawal dunia. Hal semacam ini sulit didapati pada para pesaingnya, sehingga AS-lah yang selalu mengambil inisiatif dalam persoalan-persoalan dunia. Dan yang tidak kalah pentingnya, Amerika masih memimpin dalam bidang pendidikan. Dari 20 universitas terbaik dunia, semuanya ada di Amerika, kecuali 3 saja. Dari 50 universitas terbaik, hanya 11 yang berada di luar Amerika. Sementara itu, universitas terbaik India ada pada skala 200 dan 300-an, dan universitas terbaik Cina berada di urutan ke 200 dan 300-an. Kalaupun universitas-universitas AS banyak dipenuhi mahasiswa-mahasiswa asing, termasuk yang berasal dari Asia, maka bagi Joffe itu merupakan keunikan dan nilai lebih bagi AS karena mampu menarik mahasiswa-mahasiswa terbaik ke negaranya.

Argumentasi dan data-data yang diajukan Joffe pada bagian awal tulisannya sangat menarik, tapi pada bagian akhir tulisannya ia mulai terlihat seperti seorang pemuja Amerika Serikat. Ia menilai ekspansi AS diluar negeri sebagai kombinasi dari kepentingannya sendiri dan keinginan melayani pihak lain. Sementara kekuatan-kekuatan seperti Rusia dan Cina semata-mata dikendalikan oleh maksud serakah belaka. Ia menyatakan bahwa AS mengambil inisiatif dalam berbagai persoalan dunia: persoalan Korea Selatan dan Iran dengan nuklirnya, konflik Arab-Israel, perang dengan Taliban di Afghanistan, dan lain sebagainya. ”Pesan moralnya adalah,” demikian Joffe, ”kalau Amerika Serikat tidak perduli dengan persoalan berat yang ada, maka tak satu pun yang akan perduli.” Joffe seolah lupa bahwa semua persoalan yang disebutkannya itu masih jauh dari selesai, kalau tidak dikatakan Amerika sendiri sebagai penyebab berbagai persoalan tersebut menjadi berlarut-larut.

Sebagaimana judul tulisannya, Joffe mengklaim Amerika Serikat sebagai default power, ‘negara yang mengambil posisi sentral karena tidak ada kekuatan lain di dunia yang memiliki kekuatan serta tujuan yang memenuhi syarat.’ Istilah default power ini memang menarik. Dalam komputer istilah default menggambarkan keadaan yang otomatis akan berlaku ketika tidak ada opsi lain yang dipilih. Tapi lucunya, dalam bahasa Inggris kata default juga berarti ‘kegagalan dalam melakukan sesuatu’ (failure to do something), terutama dalam masalah ekonomi. Sebuah istilah yang penuh ironi bukan?

Diskusi ternyata belum selesai sampai di situ. Majalah Newsweek edisi 7 Desember 2009 mengangkat headline yang cukup menohok: “How Great Powers Fall”. Foto Gedung Putih yang diletakkan dalam posisi terbalik pada halaman mukanya memberi pesan yang jelas tentang apa yang sedang dibicarakan oleh majalan tersebut. Artikel utama yang diangkat oleh majalah itu, An Empire at Risk, ditulis oleh Nial Ferguson, seorang professor sejarah di Harvard. Ferguson mengajukan analisa yang sepenuhnya bersifat ekonomi, walaupun ia juga menyinggung dampak yang tidak hanya berkenaan dengan ekonomi.

Fergusson menyebutkan bahwa Amerika Serikat sedang berada dalam persoalan ekonomi yang sangat berat. Defisit AS pada tahun 2009 ini, yang mencapai 11,2 persen dari GDP-nya, merupakan yang terbesar dalam 60 tahun terakhir, bahkan sedikit lebih tinggi dibandingkan pada tahun 1942. ”Kelihatannya,” kata Ferguson, ”kita mengalami kebijakan fiskal untuk masa perang dunia, tanpa adanya perang itu sendiri.” Kalaupun AS kini sedang berperang di Irak dan Afghanistan, maka kedua peperangan itu sama sekali tidak signifikan jika dibandingkan dengan Perang Dunia kedua.

Selain persoalan defisit, hutang AS juga terlalu besar. Hutang itu diperkirakan akan meningkat terus dari $5,8 triliun pada tahun 2008 menjadi $14,3 triliun pada tahun 2019; dari 41% GDP menjadi 68%. Dengan pola yang sama, pada tahun 2039, hutang AS akan mencapai 91% dari GDP-nya, skenario terburuknya malah bisa mencapai 215% GDP yang berarti lebih dari dua kali output tahunan seluruh ekonomi AS, walaupun Ferguson sendiri tidak cenderung dengan perkiraan yang terakhir ini. Persoalan intinya adalah ketidakseimbangan yang parah antara pengeluaran federal dengan pendapatannya. Hal ini jelas tidak memungkinkan hutang AS berkurang pada masa-masa ke depan.

Amerika Serikat baru-baru ini mengalami krisis finansial yang serius dan kemudian diikuti oleh krisis fiskal. ”Biasanya,” Ferguson mengutip dari Carmen Reinhart dan Kenneth Rogoff, ”hutang pemerintah akan meningkat 86% dalam tiga tahun setelah krisis perbankan.” Dua kemungkinan akan terjadi pada saat terjadinya ledakan hutang ini: default (kali ini bermakna kegagalan keuangan), biasanya terjadi ketika hutang dalam mata uang asing (ini tidak berlaku pada AS), atau serangan inflasi besar-besaran. ”Sejarah semua kekaisaran besar Eropa penuh dengan episode-episode semacam ini.... kegagalan ekonomi (default) dan inflasi yang tinggi merupakan gejala-gejala yang paling pasti dari keruntuhan suatu imperium.”

Kemungkinan lainnya adalah peningkatan suku bunga riil (real interest rate), yaitu suku bunga aktual dikurangi inflasi. Ferguson menilai hal semacam ini bisa saja terjadi pada AS, dan ia malah lebih buruk dari kemungkinan sebelumnya. Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan pembayaran bunga pemerintah federal AS akan meningkat dari 8% pada tahun 2009 menjadi 17% pada tahun 2017, bahkan jika suku bunga tetap rendah dan terjadi pertumbuhan ekonomi. Jika suku bunga naik sedikit saja dan pertumbuhan tidak terjadi, maka pembayaran bunga AS akan segera mencapai 20%. ”Sejarah mengajarkan,” kata Ferguson, ”jika kamu mengeluarkan sebanyak seperlima penghasilanmu untuk hutang, kamu memiliki masalah. Menjadi terlalu mudah mendapati dirimu terjatuh ke dalam lingkaran setan hilangnya kredibilitas. Investor tidak akan percaya kamu mampu membayar hutang, dan karenanya mereka meminta bunga lebih tinggi, yang justru membuat posisimu semakin buruk.”

Masalahnya tidak selesai sampai disitu. Begitu pembayaran bunga menyentuh budget, maka harus ada yang dikorbankan, dan itu biasanya pengeluaran pertahanan. Sebenarnya, masih menurut CBO, penurunan budget untuk keamanan nasional sudah mulai terjadi. Pada tahun ini pengeluaran untuk pertahanan AS kurang 4% dari GDP, pada tahun 2015 akan turun menjadi 3,2%, dan pada tahun 2028 akan turun lagi menjadi 2,8%. Ke depannya, Ferguson memperkirakan, penurunan yang sama juga akan berlaku pada belanja kemanan sosial.

”This is how empires decline,” ujar Ferguson di akhir tulisannya. “It begins with a debt explosion. It ends with an inexorable reduction in the resources available for the Army, Navy, and Air Force.” Ada banyak contoh dalam sejarah terkait hal ini. Kerajaan Habsburg Spanyol berkali-kali men-default hutangnya antara 1557 dan 1696 lalu kemudian terjatuh dalam inflasi. Perancis pra-revolusi membelanjakan 62% pengeluaran kerajaannya untuk membayar hutang pada tahun 1788. Turki Utsmani dan Inggris juga menghadapi persoalan yang hampir sama menjelang kejatuhannya. Sekiranya Amerika Serikat tidak melakukan reformasi fiskal secara radikal, kemungkinan ia pun akan mengalami nasib yang sama.

Jadi bagaimana nasib Amerika Serikat berikutnya: decline or not decline (mundur atau tidak?) Kita akan bisa mengetahuinya secara pasti dengan berjalannya sejarah. Yang jelas, kebanyakan sejarawan percaya bahwa setiap bangsa dan perdaban memiliki umurnya sendiri. Setelah melewati masa puncak, semua akan mengalami kemunduran dan pada akhirnya runtuh. Fakta-fakta sejarah juga memperlihatkan kenyataan yang sama: belum ada satu peradaban pun yang mampu mengabaikan siklus ini dan terus menerus mengalami kemajuan. Al-Qur’an juga menyatakan hal yang sama: “Katakanlah: ...Tiap-tiap umat mempunyai ajal . Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak mendahulukan.” (QS 10: 49).

Jadi ini hanya persoalan waktu saja. Kalau orang-orang seperti Josef Joffe percaya bahwa kasusnya akan berbeda dengan Amerika, maka para pemikir dan sejarawan Eropa pada abad kesembilan belas juga percaya kalau mereka sudah mengetahui hukum sejarah dan karenanya boleh mencegah terjadinya penurunan (decline) pada peradaban mereka. Tapi setelah terjadinya perang dunia mereka menjadi pesimis, dan pesimisme mereka kemudian terbukti. Inggris dan Eropa mulai mengalami kemunduran. Posisinya digantikan oleh Amerika Serikat. Kini sebagian pemikir Amerika sendiri mulai merasa pesimis dengan posisi negara mereka sebagai superpower. Tampaknya pesimisme mereka tersebut akan menemui pembenaran pada beberapa dekade ke depan.

Akhirnya, pertanyaan tetap muncul berkenaan dengan siapa yang berpeluang menggantikan posisi Amerika Serikat. Sejauh ini banyak pihak cenderung melihat Cina sebagai kandidat terkuat. Tapi Cina pun masih memiliki persoalannya sendiri yang beberapa di antaranya sudah disinggung di atas. Peluang untuk mengambil peranan ini masih terbuka bagi berbagai bangsa yang ada di dunia.

Bagaimana dengan kaum Muslimin sendiri? Apakah mereka mampu menjawab tantangan ini dan tampil ke muka sekali lagi? Kami kira persoalan ini tidak begitu relevan bagi kaum Muslimin pada saat ini. Yang terpenting untuk dilakukan oleh kaum Muslimin adalah membenahi persoalan internal mereka terlebih dahulu agar selaras dengan al-Qur’an dan tuntunan Nabi shallallahu ’alaihi wasallam.

Beberapa hari lagi kaum Muslimin akan menyongsong 1 Muharram 1431 hijriah. Alangkah baiknya jika kita mengokohkan komitmen untuk berhijrah dari perilaku yang tidak Islami menuju terbentuknya individu dan komunitas yang Qur’ani. Kalau itu sudah berhasil dilakukan, insya Allah tongkat estafet peradaban akan datang sendiri kepada kaum Muslimin. Wallahu a’lam. [Kuala Lumpur, Selasa, 28 Dzul Hijjah 1430/15 Desember 2009/www.hidayatullah.com]

*)Penulis sedang mengambil program doktoral bidang sejarah di di Universiti Islam Antarabangsa, Malaysia



ilustrasi: cover newsweeks; getty images.

http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10147:amerika-serikat-decline-or-not-decline&catid=164:sejarah&Itemid=104

Wednesday, December 16, 2009

Cerita yang Tertunda



Kisah ini saya alami ketika sedang menjalani praktik profesi Maternitas di sebuah rumah sakit pemerintah di bilangan Jakarta Pusat. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari kisah ini.

Siang itu, cuaca sangat cerah. Saya agak lupa detail waktunya, kalau tidak salah sekitar bulan Maret atau April 2008. Saya dan teman satu kelompok mendapat giliran jaga sore. Kami berangkat dari Depok menuju rumah sakit dengan naik KRL jurusan Tanah Abang. Setibanya di rumah sakit, kami langsung menuju ruang rawat tempat kami praktik, kemudian melaksanakan tugas yang diberikan. Sepanjang siang hingga menjelang malam, keadaan ruang rawat dan ruang persalinan sangat tenang (sekadar informasi, ruang tempat kami bertugas merupakan ruang rawat pasca melahirkan dan terdapat pula ruang persalinan di bagian belakang). Menjelang pukul 4 datang seorang Ibu ke ruang persalinan, dengan keadaan sudah memasuki fase melahirkan. Si Ibu sedang terbaring di salah satu tempat tidur dan terlihat gelisah. Si ibu terus meringis karena merasa sudah waktunya untuk melahirkan. Si Ibu datang bersama seorang tetangganya. Ketika ditanya kemana suami si Ibu, sang tetangga menjawab ,"sedang bekerja, nanti juga datang." Kedatangan sang suami memang dibutuhkan untuk mengurus keperluan keringanan biaya rumah sakit. Rupanya si Ibu tergolong keluarga kurang mampu. Tapi keadaan ini tidak menghambat si Ibu mendapatkan pelayanan.

Waktu maghrib pun datang. Saya dan teman minta izin kepada perawat senior dan bidan yang ada di ruang rawat dan bersalin untuk sholat maghrib di masjid yang letaknya di lantai dasar. Sepuluh menit kemudian kami kembali ke ruangan. Baru saja kami memasuki ruangan menuju ruang persalinan, tiba-tiba terdengar bunyi 'duk!' yang sangat keras seperti ada yang jatuh dari dalam ruang persalinan . Langsung saya dan teman berlari menghampiri ruang tersebut, begitu pula dengan perawat dan bidan senior. Masya Allah..pemandangan yang sangat jarang terjadi di depan mata. Si Ibu rupanya terjatuh!! Keadaan seketika menjadi kacau. Genangan darah memenuhi lantai dan dengan cepat kami menggotong si Ibu kembali ke tempat tidur. Petugas cleaning service cepat dipanggil untuk membersihkan ruangan dan para senior segera mempersiapkan pertolongan. Selang infus langsung dipasang untuk mengalirkan cairan. Doppler segera diaktifkan guna mendengarkan denyut jantung janin dan kami membantu terus memantau tanda-tanda vital si Ibu dengan mengukur tekanan darahnya setiap 15 menit sekali.

Dalam keadaan seperti itu, si Ibu terus-terusan berkata, "gelap..saya ga bisa lihat apa-apa..". Saya dan teman hanya bisa menenangkan beliau, "bu, istighfar ya bu..tolong tetap terjaga, insyaAllah keadaan ini ga lama." Si Ibu tidak menjawab, namun terus berkata,"gelap..gelap.." dan kami pun terus menenangkan beliau.

Suara denyut jantung janin yang terdengar melalui Doppler sangat tidak beraturan. Para senior terus memantau keadaan ibu melalui pemberian cairan. Salah seorang senior menelepon ruang operasi agar segera dipersiapkan operasi caesar cito (darurat). Selagi ruangan operasi dipersiapkan keadaan ibu dan janinnya yang tidak stabil terus kami pantau. Kami juga mempersiapkan si Ibu agar bisa segera dibawa ke ruang operasi. Begitu staf ruang operasi menelepon, saya, teman, dan salah seorang senior segera membawa ibu yang terbaring lemah menuju ruang operasi. Kami berlari-lari menuju ruang operasi agar si Ibu tidak terlambat ditolong. Keadaan seperti itu (berlari-lari di lorong rumah sakit sambil mendorong tempat tidur pasien yang sedang gawat) biasanya cuma saya lihat di serial TV. Saya tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi pada saya. Akhirnya kami sampai di ruang operasi dan si Ibu segera masuk ruangan tersebut. Kami bernapas lega sambil berdoa semoga operasi bisa berjalan lancar dan Ibu dan anak bisa diselamatkan. Sambil perjalanan pulang ke ruangan, saya dan teman sedikit ngobrol dengan senior tentang kemungkinan yang akan terjadi pada si Ibu dan janinnya. Senior berkata, "semoga semuanya selamat."

Ketika kami kembali ke ruangan, jam dinding menunjukkan pukul 20:30 WIB yang artinya jam dinas sore saya sudah habis. Setelah operan dengan dinas malam, saya dan teman segera berganti pakaian dan pamit pada seluruh senior. Dalam perjalanan pulang ke Depok, saya dan teman hanya bisa diam. Entah apa yang sedang dipikirkan teman saya. Kami merasa sedih dengan keadaan si Ibu dan semoga Allah menolong mereka (Ibu dan janinnya)...

Keesokan paginya, saya dan teman kembali dapat giliran dinas sore. Kami penasaran dengan keadaan si Ibu dan kemudian mencari tahu bagaimana keadaannya saat ini. Begitu tahu ruangan beliau dirawat, kami segera menghampiri dan menanyakan keadaannya. "Alhamdulillah ibu sekarang sudah lebih baik. Tapi ibu kehilangan bayi ibu." Beliau bercerita dengan mata berkaca-kaca. Kami hanya bisa berkata, "sabar ya bu. InsyaAllah ini yang terbaik buat ibu dan si bayi. Mudah-mudahan ada pengganti yang lebih baik." Kami lantas bercerita kejadian kemarin yang sangat menghebohkan. Si Ibu mengiyakan, namun kata-kata beliau selanjutnya sungguh membuat saya terkejut, "saya masih ingat dengan suara mba-mba ini yang menenangkan saya. Terimakasih ya.."

Wow..kata-kata beliau benar-benar membuat kami terharu. Selama saya merawat dan melayani pasien baru kali ini saya mendengar kata yang begitu tulus terucap dari seorang pasien. Mungkin disinilah letak kepuasan sebagai seorang perawat menurut saya. Ketika rasa lelah mendera, penghargaan yang tulus dari pasien mampu menjadi penawarnya. Penghargaan tersebut juga mampu memberi semangat untuk terus memberikan yang terbaik bagi pasien.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas (menurut saya) adalah ketika melakukan suatu pekerjaan hendaknya kita lakukan dengan penuh keikhlasan dan jangan pernah mengharapkan penghargaan apapun. Jika kita melakukan dengan ikhlas, insyaAllah Allah sudah menghitungnya sebagai pahala. Menolong sesama manusia pekerjaan yang mulia, sehingga harapkan balasan hanya dari sang Pencipta manusia.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi teman-teman semua dan memberi semangat untuk terus memberikan yang terbaik bagi orang lain. Untuk rekan-rekan perawat khususnya, semoga dapat memberikan motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan dan perawatan kepada pasien dan berkontribusi demi kemajuan dunia keperawatan Indonesia. ^^

Monday, December 14, 2009

감사~ Thank You...

Syukur kuucapkan atas apa yang telah kucapai hingga hari ini, atas nikmat sehat yang telah Allah berikan. Bersyukur karena Allah orang tua yang selalu mendukungku, teman-teman yang selalu ada kala waktu senang dan susahku..

"그대를 만날수 있었던걸 하늘에 많이 감사해요" Semoga..ini yang terbaik..

Hamas: Kontes "Miss Palestina" di Tepi Barat Sebuah "Lelucon"

Tulisan berikut ini saya ambil dari eramuslim.com. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan semoga semakin membuka mata akan cara halus yang digunakan kaum kafir dalam merusak generasi Muslim.


Kementrian urusan perempuan dari pemerintahan Hamas di jalur Gaza mengecam sebuah kontes untuk memilih "Miss Palestina" dan menganggap hal tersebut sebuah "lelucon" dan mereka tidak akan mengijinkan kontes itu terjadi di Palestina, khususnya jalur Gaza.

Perusahaan swasta Palestina "Fashion Trip" mengumumkan kontes tersebut, dan Salwa Youssef direktur dari perusahaan yang berbasis di Ramallah menyatakan bahwa "Kontes akan diadakan pada tanggal 26/12/2009 dengan partisipasi dari 58 kontestan, di antaranya 26 dari dalam wilayah Israel dan 32 kontestan berasal dari Tepi Barat."

Salwa mengatakan dalam konferensi pers, "200 gadis telah mengajukan diri untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi "miss Palestina", namun hanya 58 di antara mereka yang diterima," dan para pelamar telah menjalani pengujian oleh para spesialis dibidangnya.

Salwa Youssef mengatakan juga, "kami menghadapi beberapa kesulitan selama persiapan untuk kegiatan ini, sulit untuk meyakinkan banyak orang tentang ide ini, dan pertanyaan yang selalu ada mengenai apakah kontestan akan turut serta mengenakan pakaian renang atau tidak," Salam kemudian menambahkan: "Tentu saja para kontestan tidak akan kita minta untuk berpenampilan dengan pakaian renang, karena hal tersebut benar-benar bertentangan dengan sifat masyarakat Palestina yang tradisional".

Pihak panitia menyatakan bahwa para peserta yang akan berpartisipasi dalam kontes "Miss Palestina" itu akan dinilai oleh perwakilan dari Kementerian Penerangan Palestina dan Kementerian Kebudayaan yang dibawahi pemerintah otoritas Palestina, serta diharapakn akan dihadiri oleh lebih dari seribu orang yang telah diundang untuk menghadiri kompetisi.

Pemenang kontes akan menerima gelar sebagai "Miss Palestina" dan juga akan menjadi model pada sebuah pameran mobil di Ramallah, disamping itu mereka juga akan mendapatkan hadiah untuk berwisata ke Turki serta mendapatkan uang sebesar 2700 dolar AS.

Jatuhnya moral

Kementrian Urusan Perempuan dari Pemerintah Gaza menyatakan, "Pengumuman kontes ini adalah bagian dari strategi barat untuk menjatuhkan moral rakyat Palestina di depan mata dan telinga pemerintah otoritas Palestina di Ramallah."

Hamas lewat kementrian urusan perempuan - menyerukan kepada rakyat Palestina di Tepi Barat untuk menghentikan lelucon ini yang membahayakan reputasi dan budaya rakyat Palestina.

"Kami sepenuhnya sadar bahwa di balik perusahaan yang menyelenggarakan kontes ini adalah pemerintah di Ramallah yang ingin mengaburkan semangat Jihad rakyat Palestina yang dikenal dunia, seperti yang dibuktikan oleh partisipasi formal dari Departemen Informasi dan Kementerian Kebudayaan pemerintah otoritas Palestina di tepi barat".

Kementrian urusan perempuan Hamas menuntut pemerintah Ramallah harus berhenti bekerja sama dengan perusahaan "Fashion Trip" dan segera mengecek akuntabilitas dari Direktur perusahaan tersebut Salwa Youssef.

Dan meminta kepada para orang tua yang memiliki anak gadis untuk melarang mereka turut serta dalam kontes ini, karena kontes seperti itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar rakyat Palestina.

Dalam konteks terkait, Asosiasi Cendekiawan Palestina mengecam keras pengumuman kompetisi untuk pemilihan "Miss Palestina," sembari menyatakan bahwa kontest tersebut merupakan langkah yang akan menyia-nyiakan martabat perempuan, dan mendorong tindakan tidak bermoral dalam masyarakat Palestina dengan mendorong perempuan untuk menampilkan daya tarik mereka sebagai langkah menciptakan generasi yang jauh dari nilai-nilai moral dan kesopanan serta kerendahan hati dalam konteks pemeliharaan martabat perempuan Palestina.(fq/islammemo)

http://www.eramuslim.com/berita/palestina/hamas-kontes-miss-palestina-di-tepi-barat-lelucon-yang-tidak-lucu.htm

Perjalanan Dinas Perdana Eps.2

Hmm..akhirnya kesempatan melanjutkan kisah perjalanan perdana saya ke Surabaya tiba juga. Let's start..!

Kemarin cerita terhenti ketika saya dan si Ibu pulang ke hotel dalam keadaan hujan deras. Selama saya beberapa hari di Surabaya, cuaca selalu panas atau mendung namun tidak pernah turun hujan. Jadi, baru kali itu saya merasakan dinginnya Surabaya. Ternyata, sama saja dengan ibukota Jakarta, beberapa ruas jalan di Surabaya mengalami banjir (meskipun tidak sampai menenggelamkan kota, namun cukup membuat jalanan macet). Saya pikir,"Wah, banjirnya sama.." (^^).

Akhirnya setelah berjuang menerjang hujan dan macetnya jalanan, kami kembali ke hotel dengan selamat. Berhubung saya dan Ibu belum makan malam dan memang perut terasa sangat lapar (entah karena seharian mengatur kursi kemudian malam itu cuaca dingin :D)Jadilah akhirnya kami order makanan cepat saji (ga tahu juga kenapa ga order makanan hotel ^^). Selesai makan, langsung deh istirahat biar besok badan fit menghadapi hari pertama ujian.

Pagi hari tanggal 21 November 2009
Kami harus sampai di lokasi ujian jam 6 pagi karena ujian dimulai jam 8. Sesampainya di lokasi, halaman auditorium sudah penuh dengan peserta ujian dan beraneka macam pedagang. Wuih..ramee....
Setengah jam sebelum ujian dimulai, peserta dipersilakan memasuki ruangan kemudian mencari tempat duduknya. Satu hal yang bisa saya gambarkan tentang keadaan ini adalah : kacauuu..! Benar-benar kacau. Peserta ujian berseliweran kesana kemari mencari tempat duduknya. Belum lagi ternyata ada beberapa peserta yang tidak mendapat kursi karena nomor ujiannya terlewati dan tidak tertempel di kursi. Ppppfffhhh..Untunglah sudah sarapan nasi pecel, jadi masih bisa mengatasi masalah yang cukup bikin heboh itu.

Selesai ujian sesi satu, kekacauan rupanya belum berakhir. Ada miskoordinasi dengan panitia pembuat soal masalah istirahat peserta saat jeda ujian. Peserta yang seharusnya tetap di tempat duduknya sambil menunggu ujian selanjutnya, oleh panitia pembuat soal dibiarkan keluar. Tentu saja kami kewalahan mengatur peserta yang terlanjur berhamburan keluar ruangan. Kalau peserta sudah keluar ruangan, tentu akan susah mengenali peserta kembali (bisa saja kan yang masuk ruangan ketika ujian selanjutnya bukan peserta yang pertama alias diganti joki). Meskipun susah payah, akhirnya kondisi kacau tadi kembali dapat dikendalikan secara perlahan. Akhirnya..hari pertama ujian berakhir juga...Hhh..Alhamdulillah..

Malam harinya, kami (tim Surabaya) berencana mengelilingi kota Surabaya dan menjajal jembatan Suramadu. Hampir sama dengan Jakarta, Surabaya di malam hari dipenuhi warna warni lampu kota dan lampu kendaraan bermotor. Oleh karena tujuan utama adalah jembatan Suramadu, maka perjalanan dari hotel langsung menuju arah jembatan. Kesan pertama mengenai jembatan Suramadu adalah : gelap (secara ga ada lampu jalanan yang dinyalakan-atau malah belum dipasang). Pikir saya, jembatan pada malam hari merupakan pemandangan yang indah karena kilauan lampu-lampu hias yang dipasang. Jangan bayangkan indahnya Golden Bridge di San Fransisco..Meskipun agak mirip si arsitektur bangunannya dengan Golden Bridge itu..hehehe....Karena niat awalnya cuma melewati jembatan dan tidak singgah di Madura, maka kami segera kembali ke Surabaya begitu melihat U turn. Jembatan Suramadu ini satu-satunya jembatan dimana ada jalan tol untuk pengendara motor. Sistem jembatan ini memang menggunakan tarif tol (tidak seperti jembatan lainnya yang tinggal melintasi begitu saja). Tarif tol diberlakukan karena selain jembatan itu, ada sarana penyeberangan laut melalui kapal yang tentu saja mempunyai tarif khusus. Bisa dibayangkan klo melewati jembatan tidak dikenai tarif, tentu saja para penumpang kapal akan beralih melalui jalan darat semua. Tarif tol untuk jembatan pun lumayan mahal, Rp. 30.000 untuk kendaraan golongan 1, Golongan II Rp45.000, Golongan III Rp 60.000, Golongan IV Rp 75.000, dan Golongan V Rp 90.000, sedangkan Golongan VI (kendaraan roda dua) Rp 3.000 (www.suramadu.com)


Setelah kembali ke Surabaya, kami mengunjungi G Walk (pusat jajanan malam). Letaknya lumayan jauh dari pusat kota Surabaya (saya juga tidak tahu tepatnya di daerah mana^^). Sesampainya disana langsung saja mencari tempat makan yang kira-kira menjual makanan enak. Berhubung sudah lapar, saya lebih memilih makanan yang cepat disajikan dan akhirnya memilih Soto Lamongan sebagai menu makan malam (ada yang protes, "jauh-jauh ke Surabaya malah makan soto..Saya cuma nyengir. Padahal memang karena bingung mau makan apa, daripada kelamaan mencari-cari lebih baik yang ada didepan mata saja). Hh..akhirnya hari itu berakhir...

Ujian hari kedua, saya berharap semua lancar-lancar saja. Alhamdulillah, memang begitu..Hanya saja, hari ujian kedua waktunya sangat panjang karena ujian untuk D3 dan SMK dilaksanakan pada siang harinya. Entah karena sarapan kurang banyak atau pengaruh hormon saya merasa pusing. Mungkin juga karena akumulasi capek seminggu lalu. Pusing yang saya rasa cukup mengganggu aktivitas, alhamdulillah saya masih bisa bertahan. Saat tiba waktu istirahat makan siang, saya pikir dengan makan maka rasa pusing itu akan hilang. Ternyata dugaan itu salah. Pusing itu masih menyiksa hingga akhir ujian sekitar pukul 5 sore. Saya coba alternatif lain dengan berjalan-jalan sekalian cari oleh-oleh. Tetap saja gagal. Rasanya saya sudah ingin kembali ke hotel dan tidur. Tapi waktu menunggu berakhirnya ujian itu benar2 menyiksa : pusing berat, terlalu lama menunggu bikin BT juga, ditambah ketidakseimbangan hormon. Masya Allah...benar-benar menguji kesabaran..
Begitu ujian selesai dan saya diantar kembali ke hotel saya langsung tidur dan bangun jam 11 malam. Untunglah setelah tidur, pusing hilang dan badan kembali segar. Hmm..maaf buat yang merasa diabaikan selama saya berhibernasi..^^ bukan juga bermaksud membuat cemas. Padahal rencana malam itu Ibu dan tim Surabaya lain adalah jalan-jalan. Tapi..karena saya tidur, batal deh..Maaf ya...

The last day
Akhirnya tiba juga hari terakhir di Surabaya. Agenda hari itu adalah jalan-jalan seharian dan yang pertama yaitu mengunjungi counter tas yang cukup digemari kaum hawa (hitung-hitung membayar hutang karena tidur semalam,hehe..). Setelah puas melihat-lihat dan membeli (bukan saya loh..)perjalanan dilanjutkan ke suatu rumah makan (karena memang sudah waktunya makan siang). Letak rumah makan itu cukup jauh dari pinggir jalan. Ternyata rumah makan ini langganan salah satu anggota tim. Menu yang disajikan bervariatif namun bukan menu khas Jawa Timur melainkan Jawa Tengah. Rasa masakannya pun lumayan enak (maklum, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya karena saya bukan murid Pak Bondan Winarno^^. Yang penting bagi saya, makanan disebut enak jika bisa dimakan..hehehe). Selesai makan, kami meluncur menuju rumah sakit untuk menjenguk ibu teman satu tim kami yang kebetulan berkampung halaman di Surabaya.

Melihat bangunan rumah sakit yang tua, mengingatkan saya akan saat-saat profesi dulu (karena rumah sakit tempat saya menimba ilmu keperawatan praktik merupakan bangunan tua). Kadang, ada rasa kangen dan iri ketika bertemu dengan perawat-perawat rumah sakit dan teman-teman yang saat ini bekerja di rumah sakit. Kangen melayani dan merawat pasien dengan keunikan mereka masing-masing..kangen dengan dinas malam yang menyimpan banyak cerita..*sigh*..tapi sekarang bukan saatnya menyesali jalan yang sudah saya pilih. Semoga ilmu yang saya dapat ketika kuliah dan profesi dulu dapat bermanfaat suatu saat..Aamiin...(ehh..jadi OOT ni..^^)

Back to the main story, keadaan ibu teman saya cukup parah dan teman saya diijinkan cuti beberapa hari untuk merawat ibunya. Alhamdulillah keadaan beliau saat saya menulis kisah ini sudah lebih baik.

Perjalanan dilanjutkan menuju lokasi wisata lumpur terbesar (mungkin) yaitu lumpur Lapindo. Lokasi danau lumpur itu benar-benar mengenaskan. sejauh mata memandang hanya ada lumpur dan asap putih. Padahal dulunya merupakan pemukiman penduduk. Hmm..bagaimana para warga itu bertahan hidup dan harus memulai hidup baru? Seluruh harta benda terendam lumpur, sementara pemerintah pun rasanya tidak sigap menyelesaikan masalah ini. Ketidakpedulian pemerintah saat ini (tidak hanya kasus Lapindo namun juga kasus lainnya) benar-benar berbeda dengan gambaran ideal pemerintahan seharusnya. Sebenarnya siapa yang disebut wakil rakyat itu? apa sebenarnya tugas mereka? Apa mereka tidak mendengar jerit masyarakat yang kesusahan? Pfff..berat sekali tanggung menjadi seorang penguasa itu...(intermezo soal politik sedikit lah ya..)Sampai kapan harus begini?? Rakyat butuh diperhatikan, bukan hanay sekedar janji-janji manis (ingatlah janji itu hutang yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti dihadapan Tuhan)..

Suasana sekitar kubangan lumpur raksasa itu begitu sepi..yang terdengar hanya desiran angin bertiup (halah lebay amat..hehe) tapi emang beneran sepi si..dan tercium bau yang kurang sedap..(entah bau belerang atau apa, yang pasti si baunya bikin mual..). Oh ya, kenapa dibilang 'Wisata Lumpur?' sebab pengunjung yang hendak melihat lumpur dikenai tarif masuk seperti mau masuk ke lokasi wisata. Entah bertujuan untuk apa, tapi begitulah keadaannya.

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh di Kota Sidoarjo. Wow! Pusat jajanan itu memang super lengkap. Dari jajanan mentah (aneka jenis kerupuk mentah) hingga makanan matang (keripik, yangko, dan lainnya). Harganya pun cukup terjangakau dan tersedia jasa pembungkusan kardus jika anda berbelanja banyak. Wew..sulit juga memilih jenis oleh-oleh. Inginnya si beli semua, tapi harus dipikirkan juga bawaan bagasi nanti ditambah pula oleh-oleh yang lain. Jadi ya, dipilih makanan ringan dengan jumlah cukup untuk teman dan keluarga.

Perjalanan berakhir di kantor perwakilan. Sambil menunggu penerbangan, kami berpamitan dengan Kepala Perwakilan dan rekan-rekan di sana. Ketika waktu semakin mendekati jadwal penerbangan, kami pun segera berangkat ke bandara. Sesampainya di bandara, ternyata pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta mengalami keterlambatan selama 30 menit. Yah..terpaksalah menunggu...sambil berpikir, jam berapa saya akan tiba di Jakarta? terus jam berapa pula saya akan tiba di Depok? Yang pasti malam sekali. Apalagi keesokan harinya saya harus masuk kantor..wow..bisa dibayangkan capeknya?? :D

Akhirnya pesawat benar-benar datang jam 20:30 dan langsung meluncur menuju Jakarta dan tiba pukul 22:30 WIB. Wew..malam juga ya..Terpaksalah naik taksi ke Depok (mengingat bawaan saya yang banyak rasanya ga mungkin klo harus naik bis). Inilah perjalanan terberat (bukan soal medan jalannya, tapi lebih karena saya harus menahan kantuk selama perjalanan). Siapa yang tidak akan terus berusaha terjaga jika anda di Jakarta pada waktu hampir mendekati tengah malam kemudian menjadi penumpang taksi, sendiri pula. Bisa-bisa anda dibawa lari..(bukannya mo nakut-nakutin, tapi mencoba agar selalu waspada). Pfuih..tiba juga akhirnya di Depok pukul 23.30 malam...

Karena sudah lelah dan besok harus kerja, langsung deh tertidur (sebenarnya ga juga, cuma untuk mempersingkat cerita, saya tulis saja langsung tidur^^) setelah cuci muka dan sikat gigi..zzzzz....

Well..demikian kisah ini saya tulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari kisah ini..

Kalau saya dapat amanah lagi keluar kota, mudah2an ceritanya lebih seru dan lebih lengkap. Maaf juga klo ada kekurangan dari sisi penceritaan, detail cerita, maupun lainnya. Maklum, masih amatir..^^

Jakarta, 14 Desember 2009

Friday, December 11, 2009

Lesson of The Day


Kematian memang misteri. Kita tidak akan pernah tahu kapan ia datang dan dengan cara bagaimana kita akan meninggalkan dunia yang penuh fitnah ini. Biasanya manusia akan ingat kematian jika ada seseorang yang dekat meninggal (entah itu orang tua, adik/kakak, kerabat, maupun sahabat).

Hari ini saya baru saja kehilangan (lagi) seorang teman (meski bukan teman dekat). Sosoknya mudah dikenali dan memang kadang menjadi bahan perbincangan (tentu bukan untuk bergosip yang tidak-tidak). Badannya yang sakit-sakitan kerap menjadi perhatian khusus bagi teman-teman. Mungkin Allah swt terlalu sayang padanya hingga memanggilnya pada usia 27 tahun, usia yang masih sangat muda terlebih lagi dia baru saja menapaki karir di salah satu instansi pemerintah.

Ketika saya dan teman-teman melihat wajahnya untuk terakhir kali dan berbincang sejenak dengan keluarganya, suasana duka itu begitu terasa. Di mata saya, sosok sang Ibu dan calon istrinya terlihat tegar walaupun air mata terus mengalir..Kejadian hari ini begitu membekas. Saya merasa diingatkan kembali bahwa kematian itu pasti datangnya. Kadang manusia terlalu sombong untuk sekadar merenungi hakikat hidup, bahwa hidup itu hanya sementara..hendaknya disikapi secara bijak.

Hmm..saya jadi merenungi pilihan untuk menon-aktifkan akun fb saya. Saya memang sedang jenuh dan berniat menghilang sejenak dari peredaran (memangnya planet^^) tapi...kejadian ini memberi suatu pelajaran baru bagi saya. Hidup kadang membuat penat dan jenuh, dan memang kadang pula butuh waktu menyendiri. Namun menurut saya, pilihan 'menghilang' bukan solusi tepat. Apalagi waktu memutuskan pilihan itu sedang sedang dilingkupi egoisme, jadi ketika keputusan telah diambil saya jadi menyesal. Seharusnya tidak seegois itu..seharusnya bisa menyelesaikan sendiri kejenuhan yang sedang melanda..tidak perlu melibatkan orang lain dalam masalah pribadi (meskipun kadang teman dibutuhkan).

Kejadian ini cukup membuka mata saya. Saya tidak perlu menghilang karena dapat memutuskan tali silaturahim (menurut saya loh ya..), hanya membuat cemas orang-orang yang peduli pada saya (kalau ada..^^). Memang si, menghilang itu memang kadang diperlukan, tapi rasanya perlu juga dilihat kapan waktunya. Saya pun menemukan cara mengatasi kejenuhan dan tidak perlu menghilang..hehehe...Cukup menekuni apa yang menjadi minat saya dan dengan sendirinya rasa jenuh itu menghilang..^^

Pelajaran hari ini adalah : manfaatkan waktu yang masih kita punya untuk melakukan sesuatu yang berguna, perlakukanlah teman-temanmu dengan baik, kumpulkanlah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baik bekal untuk menghadap-Nya nanti..karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan bertemu dengan Sang Pencipta kita..

Mengutip status fb seorang teman "Taat pada Allòh dan rosul-Nya adalah kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.. Segeralah pegang teguh keduanya, karena kita tidak tahu kapan dan dimana kita akan berpisah dengan dunia dan segala isinya.." Inilah sebaik-baik bekal..

Thursday, December 10, 2009

HAM dan Kebebasan


Tulisan ini saya ambil dari insistnet.com. Semoga bermanfaat dan membuka wacana baru buat pembaca.


Masih ingat Lia Eden? Perempuan ini mendakwahkan dirinya sebagai Jibril Ruhul Kudus. Lia, yang mengaku mendapat wahyu dari Allah, pada 25 November 2007, berkirim surat kepada sejumlah pejabat negara. Kepada Ketua Mahkamah Agung RI, Bagir Manan, Lia berkirim surat yang bernada amarah. ”Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku,” tulis Lia dalam surat berkop ”God’s Kingdom: Tahta Suci Kerajaan Eden”. Jadi, mungkin baru ada di Indonesia, ”Malaikat Jibril” berkirim surat dan ”ganti tugas” sebagai ”pencabut nyawa.”

Saat ditanya tentang status aliran semacam ini, MUI dengan tegas menyatakan, ”Itu sesat.” Mengaku dan menyebarkan ajaran yang menyatakan bahwa seseorang telah mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, apalagi menjadi jelmaan Jibril adalah tindakan munkar yang wajib dicegah dan ditanggulangi. (Kata Nabi saw: ”Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman”).

Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok Lia Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang MUI tolol. Sebuah jurnal keagamaan yang terbit di satu kampus Islam di Semarang menurunkan laporan utama: ”Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI bisa dijerat KUHP Provokator.” Sejumlah kelompok juga datang ke Komnas HAM meminta pembubaran MUI.

Dasar mereka untuk menghujat MUI adalah HAM dan kebebasan. Bagi kaum liberal, pasal-pasal dalam HAM dipandang sebagai hal yang suci dan harus diimani dan diaplikasikan. Dalam soal kebebasan beragama, mereka biasanya mengacu pada pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), yang menyatakan: ”Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpendapat, keyakinan dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau keyakinan, dan kebebasan baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan yang lain dan dalam ruang publik atau privat untuk memanifestasikan agama dan keyakinannya dalam menghargai, memperingati, mempraktekkan dan mengajarkan.”

Deklarasi ini sudah ditetapkan sejak tahun 1948. Para pendiri negara Indonesia juga paham akan hal ini. Tetapi, sangatlah naif jika pasal itu kemudian dijadikan dasar pijakan untuk membebaskan seseorang/sekelompok orang membuat tafsir agama tertentu seenaknya sendiri. Khususnya Islam. Sebab, Islam adalah agama wahyu (revealed religion) yang telah sempurna sejak awal (QS 5:3). Umat Islam bersepakat dalam banyak hal, termasuk dalam soal kenabian Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Karena itu, setiap aliran yang mengaku mempunyai nabi baru setelah Nabi Muhamamd saw, pasti dinyatakan sesat oleh kaum Muslim. Sehebat apa pun seorang Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu ’anhum, mereka tidak terpikir sama sekali untuk mengaku menerima wahyu dari Allah. Bahkan, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq telah bertindak tegas terhadap para nabi palsu dan para pengikutnya.

Kebebasan beragama memang diakui oleh Islam. Tetapi, bukan berarti orang bebas sekehendak hatinya untuk merusak agama. Kebebasan beragama tidak berarti orang boleh berbuat apa saja dengan mengatasnamakan kebebasan, tanpa mempedulikan hukum. Pada 2009 ini, umat Islam di Swiss pun dilarang untuk membangun menara masjid. Dasarnya, sebuah referendum masyarakat. Kebebasan memang ada batasnya. Hak tidak bisa diaplikasikan begitu saja. Apalagi, bagi kaum Muslim. Hak dan kebebasan dibatasi oleh aturan-aturan Allah (syariat).

Membonceng HAM
Atas nama kebebasan dan HAM, sekelompok mahasiswa Fakultas Syariah di Semarang menyatakan dukungannya terhadap legalisasi perkawinan homoseksual dan lesbian di Indonesia. Tahun 2004, mereka menerbitkan sebuah Jurnal dengan judul sampul yang sangat provokatif : Indahnya Kawin Sesama Jenis. ‘’Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan,” tulis pengantar redaksi Jurnal ini.
Judul sampul yang sama mereka pakai untuk judul sebuah buku : Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005). Buku ini secara terang-terangan mendukung, dan mengajak masyarakat untuk mengakui dan mendukung legalisisasi perkawinan homoseksual. Bahkan, dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. Diantaranya : (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (3) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” Buku ini diakhiri dengan sebuah Catatan Penutup: ”Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN.”

Pada 11 November 2009, di satu kampus Islam di Surabaya, digelar satu seminar bertajuk “Nikah Yes, Gay Yes!” Seminar dihadiri ratusan mahasiswa. Seorang pembicara disitu mengungkapkan, bahwa kaum Luth diazab bukan karena kasus homoseks, tetapi karena menghilangkan eksistensi Nabi Luth. Pendapat semacam ini juga lazim dikemukakan kaum homoseks di lingkungan Kristen. Tapi, pendapat semacam ini pun telah banyak menuai kecaman keras dari para tokoh Kristen.

Beberapa tahun belakangan ini, dengan membonceng isu HAM dan kebebasan, kaum liberal di Indonesia memang sangat gencar mensosialisasikan legalisasi perkawinan homoseksual. Jurnal Perempuan edisi Maret 2008 menurunkan edisi khusus tentang seksualitas lesbian. Seorang profesor yang juga dosen di UIN Jakarta ditampilkan wawancaranya dengan judul: ”Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”.

Menurut sang Profesor, definisi perkawinan adalah: ”Akad yang sangat kuat (mitsaaqan ghaliidzan) yang dilakukan secara sadar oleh dua orang untuk membentuk keluarga yang pelaksanaannya didasarkan pada kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak.” Tapi, makna pasangan, bagi profesor itu, boleh juga pasangan sesama jenis. Kata dia: ”Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

Sang profesor geram, sebab, ungkapnya lebih jauh: ”Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan.” Sebab, bagi sang profesor: ”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”

Sebagai sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia kini menjadi sasaran paham dan gerakan liberalisasi secara besar-besaran. Pada 6-9 November 2006, berkumpullah 29 pakar HAM terkemuka yang berasal dari 25 negara. Mereka berhasil merumuskan ”The Yogyakarta Principles”, yang kemudian diundangkan secara internasional di muka sidang Human Rights Council’s PBB di Genewa, 26 Maret 2007. Bagi para pejuang legalisasi homoseksual, prinsip-prinsip Yogyakarta ini dianggap sebagai tonggak sejarah (milestone) perlindungan hak-hak bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender.

Maka, jangan heran jika dengan membonceng isu HAM dan kebebasan, berbagai pemikiran dan gerakan yang destruktif terhadap Islam dan kaum Muslim, kini sengaja diluncurkan ke tengah masyarakat. Tentu saja, karena penegakan HAM telah menjadi program resmi dari pemerintah RI, maka umat Islam dan para pejabat Muslim perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan memilah, mana ajaran-ajaran dan pemikiran yang merusak dan mana yang baik.

Lupakan Tuhan!
Meskipun tidak dinyatakan sebagai sebuah negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara dengan mayoritas pemeluk Islam. Keberadaan dan kehormatan agama Islam dijamin oleh negara. Sejak lama pendiri negara ini paham akan hal ini. Bahkan, KUHP pun masih memuat pasal-pasal tentang penodaan agama. UU No 1/PNPS/1965 yang sebelumnya merupakan Penpres No 1/1965 juga ditetapkan untuk menjaga agama-agama yang diakui di Indonesia.
Bangsa mana pun paham, bahwa kebebasan dalam hal apa pun tidak dapat diterapkan tanpa batas. Ada peraturan yang harus ditaati dalam menjalankan kebebasan. Seorang pengendara motor tidak bisa berkata kepada polisi,, ”Bapak melanggar HAM, karena memaksa saya mengenakan helm. Soal kepala saya mau pecah atau tidak, itu urusan saya. Yang penting saya tidak mengganggu orang lain.”

Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The Stanic Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sangat biadab; menggambarkan sebuah komplek pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi Muhammad saw. Bagi Islam, ini suatu penghinaan. Bagi kaum liberal, itu dianggap kebebasan berekspresi, sehingga Salman Rushdie pun diberi penghargaan. Bagi kaum Muslim, kebebasan berekspresi dibatasi oleh aturan-aturan Allah.

Bagi kaum liberal, kebebasan berekspresi hanya dibatasi oleh ”rasa seni” dan kondisi sosial. Selama itu dianggap seni dan menampilkan ”keindahan”, maka itu dianggap boleh-boleh saja. Bahkan, dengan lantangnya, ada yang berani menantang: ”Tidak ada yang berhak mengatur tubuhku. Hanya aku yang berhak mengatur, karena ini tubuh-tubuhku sendiri!” Bagi manusia semacam ini, keberadaan aturan-aturan Tuhan dianggap menganggu kebebasannya. Bahkan, aturan Tuhan direkayasa, diubah-ubah, ditafsir ulang, agar cocok dengan hawa nafsunya.

Maka, supaya kebebasan hidupnya tidak terganggu, mereka mengajak agar manusia melupakan Tuhan. Buang Tuhan dari kehidupan, supaya manusia meraih kebebasan yang sempurna. Persis seperti apa yang dideklarasikan oleh filosof Perancis, Jean-Paul Sartre (1905-1980): ”even if God existed, it will still necessary to reject Him, since the idea of God negates our freedom.” (seperti dikutip Karen Armstrong dalam bukunya, History of God, 1993).
Padahal, al-Quran justru menegaskan sebaliknya: ”Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang!” Dan siapa yang mengikuti petunjuk Allah, dijamin akan hidup bahagia di dunia dan akhirat. (***)

by Adian Husaini
http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=189&Itemid=54

Wednesday, December 09, 2009

...close to you...I wish...


This is a song lyric from Fly to The Sky titled 'Close to You' Ft. Dynamic Duo. This song is taken from their latest album 'Decennium'. I like this song very much! One of my favorit song this week^^

Close to You by Fly to The Sky ft. Dynamic Duo

그대 손목에 피어나는 향기
하나로도 천 개의 순간들이 기억나지
내 곁에 그대 존재만으로도
입 꼬리가 올라가 심장을 잠글 수만 있다면
절대 못나가 어~
니 존재가 주는 기쁨에
매 순간 나는 놀라 사는 게
이렇게 즐거운 줄 지금까지 몰랐어
넌 내 여자 수많은 사람들 중
너와 함께라서 너무 좋아

그대는 들어 본적 있나요 우리 처음 만났던
어색했던 두근거림을 Oh yeah

수줍게 빛나던 그대 눈망울 미소 지며 말을 걸었죠
엉뚱한 나의 그녀가 Oh yeah

어린아이 같은 그댈 내 가슴에 안아
내 맘이 열리죠 이 사랑이 Baby

한 걸음씩 다가가죠 가슴이 뛰고 있죠
그댈 향해 부를 게요 사랑한다 말할래요

한 걸음 더 다가가 내 심장이 살아나죠
그대 없인 더는 내가 사랑이 특별하지 않죠

왜 우리가 만난 걸까요 다른 세상 속에서 Yeah
왜 이렇게 행복할까요 늘 같던 세상이

사랑을 안다고 생각했던
철없던 날들처럼
그대 맘을 애타게 했죠 Oh yeah

그대 내게 마법을 걸었나요
꿈만 같은 그대가 있어
점점 내가 변하고 있죠 oh yeah

밤새 눈을 감아 못다한 말을 전해요
서툴기만 했던 내 사랑이 Baby

한걸음씩 다가가죠 가슴이 뛰고 있죠
그댈 향해 부를게요 사랑한다 말할래요

한걸음 더 다가가 그대에게 약속해요
항상 내가 그대 곁에 영원토록 살아 갈게요

왜 우리가 만난 걸까요 다른 세상 속에서 Yeah
왜 이렇게 행복할까요 늘 같은 세상이

이 노랠 듣고 있나요
그대에게 Close to you



Taken from http://www.inmuz.com/single/42122

Dedicated to 내 멋진 신랑.."이 노랠 듣고 있나요?"

Hwaahh..Finally..


Setelah berhari-hari ngutak-atik blog biar tampilannya cantik, akhirnya sekarang udah bisa 'sedikit' bangga dengan hasil modifikasi blog ini. Hehehe...setidaknya dari sisi penampilan sudah lumayan bagus, dan isinya sudah lumayan banyak. Maklumlah..namanya juga belajar..^^
Oke deh..just enjoy..^^

Tuesday, December 08, 2009

Resiliensi dan Tantangan Hidup


Senin, 7 Desember 2009 | 07:54 WIB

KOMPAS.com - Kata resiliensi berasal dari kata ”resilience” yang artinya daya lenting atau kepegasan.

Kasur dengan per pegas akan melenting kembali manakala beban badan yang menimpanya menekan per pegas kasur. Daya lenting pada manusia adalah kemampuan beradaptasi dengan tekun dan gigih walaupun keadaan terasa serba salah.

Setiap orang harus memiliki daya lenting karena satu hal yang pasti, dalam hidup selalu terdapat kemalangan yang sering tidak dapat dihindari. Contohnya, masih banyak pekerjaan menumpuk di meja padahal hari kerja sudah menunjukkan pukul 16.45. Contoh lain, terdapat kesalahpahaman dengan pasangan. Anak-anak harus tiba di tempat yang berbeda dalam satu waktu tertentu, padahal lalu lintas macet. Menghadapi peristiwa yang sangat berat, seperti terkena PHK.

Bila memiliki daya lenting yang kuat, kita dapat mengatasi setiap kemalangan dengan cara yang memuaskan dengan hasil optimal. Penelitian ilmiah yang dilakukan para pakar psikologi selama lebih kurang 50 tahun terakhir tentang daya lenting membuktikan bahwa daya lenting merupakan kunci sukses seseorang dalam menjalani hidup.

Bagaimanakah kondisi daya lenting kita?

Setiap orang hendaknya mempertimbangkan perkembangan daya lentingnya demi kenyamanan hidup. Namun, pada kenyataan, kebanyakan orang justru secara emosional dan psikologi tidak siap mengatasi kemalangan. Mereka malahan cenderung bersikap menyerah dan merasa tidak berdaya. Untuk itu, berikut ini adalah langkah yang harus kita telusuri dalam meningkatkan daya lenting:

- Kenali diri sendiri, bagaimanakah kebiasaan kita dalam bersikap?

- Hindari terjebak dalam situasi tertentu, seperti menyalahkan diri sendiri.

- Keyakinan kuat apakah yang selama ini menghambat kemampuan kita untuk bangkit? Tanpa disadari, sering kita dipengaruhi keyakinan kuat tentang hal tertentu, misalnya keyakinan bahwa orang lain dan dunia bersikap dan menginginkan sesuatu dari kita.

- Tantangan keyakinan, artinya komponen kunci dari daya lenting adalah kemampuan mengatasi masalah. Sejauh mana kemampuan kita dalam mengatasi masalah sehari-hari?

- Menjaga perspektif dalam hidup, seperti apakah kita sering tenggelam dalam kondisi tertekan dan menghabiskan waktu untuk terus mencemaskan hal yang belum tentu terjadi?

- Tenang dan tetap menjaga pusat perhatian, jangan sampai kita dikuasai stres dan situasi emosional?

- Daya lenting dalam hal tenggang waktu, apakah kita selalu dikuasai pikiran negatif yang muncul dalam benak kita sehingga sulit bagi kita menghadapi kenyataan hidup?

Tujuh kapasitas

Ternyata daya lenting seseorang mengandung 7 kapasitas yang berbeda. Ketujuh kapasitas itu bukan bersifat genetik, seperti halnya tinggi badan, melainkan kita bisa berupaya meningkatkan daya lenting tanpa batas. Daya lenting kita berada dalam kendali kita sendiri, seperti halnya kita bisa menjadi pelari cepat dengan cara berlatih walaupun kita tidak akan menjadi pelari olimpiade. Berbagai hal yang perlu kita latih adalah:

1. Regulasi emosi

Regulasi emosi adalah kemampuan untuk tetap tenang dalam keadaan tertekan. Seorang yang memiliki daya lenting tinggi biasanya orang yang terampil dalam mengendalikan emosi, atensi, dan perilaku. Regulasi emosi sangat penting peranannya dalam menjalin relasi yang intim, sukses dalam kerja, dan mempertahankan kesehatan.

2. Kendali impuls

Dapat dipahami bahwa orang yang mampu mengendalikan emosi pasti mampu mengendalikan impuls. Untuk bisa mengendalikan impuls, kita lebih dulu harus mengenali siapa diri kita. Bila kita mampu mengendalikan impuls, kita akan terhindar dari keterpakuan pada pola pikir tertentu sehingga dapat menggiring kita untuk memiliki kemampuan mendeteksi efek negatif dari keyakinan impulsif yang merugikan diri serta menggantikannya dengan yang positif.

3. Optimisme

Orang yang optimistis biasanya memiliki daya lenting yang kuat karena mereka yakin dapat mengendalikan jalan hidup di masa depan.

4. Kemampuan melakukan analisis-kausal

Dengan kemampuan ini, kita dapat menjelaskan hal buruk dan baik yang menimpa diri sehingga kita tidak terjebak pada pikiran buruk dan dapat meningkatkan daya lenting.

5. Empati

Kemampuan memahami orang lain melalui empati akan membuat kita mampu mendeteksi berbagai kemungkinan perilaku orang terhadap diri kita.

6. Kecukupan diri yang optimal

Dengan keyakinan bahwa kita cukup efektif dalam menjalani hidup, hal itu merupakan representasi keyakinan bahwa kita akan bisa mengatasi kesulitan yang akan kita hadapi.

7. Menggapai cita

Pada umumnya, orang merasakan ketidakmampuan secara berlebih sehingga tidak pernah berpikir untuk melakukan sesuatu atau memiliki ambisi yang sebenarnya bisa diraih. Dengan pemanfaatan optimisme dan mencoba menghapus keyakinan negatif yang berpengaruh dalam diri, kita bisa meraih sesuatu yang fantastik, yang bisa saja tidak kita perkirakan sebelumnya. (Reivich, Karen, PhD dan Hazte, Andrew, PhD, 2002).

Nah, mengapa kita tidak berupaya meningkatkan daya lenting demi peningkatan mutu kehidupan kita?

Sawitri Supardi Sadarjoen psikolog

그대만이

김종욱 - 그대만이

그대만이 날 웃게하고
그대만이 날 감싸줘요
그대만이 그대만이 보석보다 빛나는걸

햇살보다 눈이 부시고
바다보다 마음이 넓어요
그대만이 그대만이 나를 살게 하네요

그대를 만나려고 머나먼 별을 지나서
이렇게 멀리 돌아왔나봐요
사랑하는 마음 하나로
뜨거운 저 햇살처럼
식지 않는 그대의 마음을 내게 주세요

가난했던 내 사랑을 줘도
넘치도록 주던 사람
그대만이 그대만이 내게 행복을 줄 한 사람



그대 눈이 반짝이네요
별이 빛나는것 같아요
그대 입술 그대 두손 미운데가 하나없죠

우리서로 닮아가네요
서로에게 행복만 주네요
그대에게 그대에게 해줄말이 있어요.

고맙다는 말 했나요
우리 사랑하는 동안
난 항상 미안한 마음 뿐인데

사랑하는 마음 하나로
뜨거운 저 햇살처럼
식지않는 그대의 마음을 내게 주세요

가난했던 내 사랑을 줘도
넘치도록 주던 사람
그대만이 그대만이 내게 행복을 줄 한사람



내 삶을 전부 다준다해도
아까울것 없는 사람
그대만이 그대만이 내가 살아갈 이유인 걸
.
. ☆ 말없이 내곁을 지켜준 당신 ...

Monday, December 07, 2009

"Anda Telah Merubah Hidup Saya"


Umm..good story..semoga mampu menjadi bahan renungan bagi semua..


Muhammad Suhail mungkin telah bertindak diluar dari kebiasaan orang, ketika enam bulan lalu ia menunjukkan belas kasihannya kepada seorang perampok yang mencoba merampok tokonya, tapi ia tidak pernah menyangka bahwa tindakannya itu memiliki efek yang besar pada perubahan kehidupan manusia.

"Saya seperti sedang menang lotre, satu juta dolar, karena saya telah mengubah hidup seseorang," kata Suhail penuh semangat kepada IslamOnline.net.

Suhail menjadi berita dan pusat perhatian pada pertengahan bulan Mei yang lalu, sewaktu dirinya akan menutup tokonya pada tengah malam, tiba-tiba seorang perampok bertopeng dengan memegang tongkat baseball datang dan kemudian memaksa ia memberikan uang kepada perampok tersebut.

Ketika ia meraih ke bawah meja dan mengeluarkan senapannya, perampok bertopeng itu malah terjatuh dan roboh dengan deraian air mata, memohon kepada Suhail jangan ditembak karena ia hanya ingin memberi makan keluarganya yang kelaparan.

Alih-alih memanggil polisi, Suhail dengan baik hati malah menawarkan pria tersebut uang sebesar $ 40 dan roti, dengan persyaratan setelah perampok itu berjanji tidak akan pernah merampok siapa pun lagi.

"Jika polisi datang dan menangkap orang ini, mungkin dia akan berada di penjara, ia tidak pernah melihat anak-anaknya lagi. Dia tidak akan pernah melihat bayinya, maupunkeluarganya," Suhail menjelaskan dalam aksen bahasa Inggris yang kacau.

Perampok itu begitu terkejut atas tindakan Suhail, sehingga ia menyatakan bahwa ia ingin menjadi seperti Suhail, ingin menjadi seorang Muslim.

Akhirnya perampok itu mengucapkan syahadat dan Suhail memberinya nama Nawaz Sharif Zardari, kombinasi dari nama-nama presiden Pakistan dan pemimpin oposisi populer.

Suhail tidak berharap untuk mendengar lagi berita tentang perampok misterius itu, sampai sewaktu saat ia mendapat surat ucapan terima kasih dan uang sebesar 50 Dollar.

"Karena Anda telah mengubah hidup saya," tulis perampok itu dalam pesannya.

"Sekarang saya telah punya anak baru dan dengan pekerjaan yang baik dan mendapatkan uang yang menjauhkan aku dan keluargaku dari kesulitan dan kesusahan."

Suka menolong

Untuk kedua kalinya dalam waktu kurang dari enam bulan, Suhail kembali menjadi pusat perhatian masyarakat dan perhatian media.

Dia telah diwawancarai oleh surat kabar nasional dan stasiun TV, dan dirinya juga menerima surat kekaguman dari orang-orang yang terinspirasi oleh tindakan kebaikan yang ia lakukan bahkan dari orang di Australia.

"Jika Anda memasukkan nama saya di Internet, Anda dapat melihat saya di ratusan website yang berbeda."

Tetapi bagi Suhail, yang pindah ke AS dari Pakistan 20 tahun yang lalu dan telah tinggal di daerah Long Island selama 15 tahun, apa yang dia lakukan adalah bukanlah sesuatu hal yang luar biasa.

"Saya tidak hanya membantu orang ini, saya membantu lebih banyak orang. Apa bedanya jika saya membantu orang ini juga?"

Dia ingat bagaimana orangtuanya mengajarkan kepadanya untuk tidak menyakiti siapa pun, bahkan jika orang itu menyakitkan dirinya.

"Jika seseorang datang ke toko saya dan membutuhkan sesuatu, saya berikan kepada mereka. Apa pun yang bisa saya lakukan, saya berikan kepada mereka," tambah Suhail.

Dia mengatakan bahwa banyak orang, termasuk keluarganya sendiri, bertanya kepadanya mengapa dia selalu bersedia membantu orang yang membutuhkan.

"Saya percaya bahwa jika Anda melakukan hal-hal yang baik, hal-hal yang baik akan kembali kepada anda."(fq/iol)