Monday, December 14, 2009

Perjalanan Dinas Perdana Eps.2

Hmm..akhirnya kesempatan melanjutkan kisah perjalanan perdana saya ke Surabaya tiba juga. Let's start..!

Kemarin cerita terhenti ketika saya dan si Ibu pulang ke hotel dalam keadaan hujan deras. Selama saya beberapa hari di Surabaya, cuaca selalu panas atau mendung namun tidak pernah turun hujan. Jadi, baru kali itu saya merasakan dinginnya Surabaya. Ternyata, sama saja dengan ibukota Jakarta, beberapa ruas jalan di Surabaya mengalami banjir (meskipun tidak sampai menenggelamkan kota, namun cukup membuat jalanan macet). Saya pikir,"Wah, banjirnya sama.." (^^).

Akhirnya setelah berjuang menerjang hujan dan macetnya jalanan, kami kembali ke hotel dengan selamat. Berhubung saya dan Ibu belum makan malam dan memang perut terasa sangat lapar (entah karena seharian mengatur kursi kemudian malam itu cuaca dingin :D)Jadilah akhirnya kami order makanan cepat saji (ga tahu juga kenapa ga order makanan hotel ^^). Selesai makan, langsung deh istirahat biar besok badan fit menghadapi hari pertama ujian.

Pagi hari tanggal 21 November 2009
Kami harus sampai di lokasi ujian jam 6 pagi karena ujian dimulai jam 8. Sesampainya di lokasi, halaman auditorium sudah penuh dengan peserta ujian dan beraneka macam pedagang. Wuih..ramee....
Setengah jam sebelum ujian dimulai, peserta dipersilakan memasuki ruangan kemudian mencari tempat duduknya. Satu hal yang bisa saya gambarkan tentang keadaan ini adalah : kacauuu..! Benar-benar kacau. Peserta ujian berseliweran kesana kemari mencari tempat duduknya. Belum lagi ternyata ada beberapa peserta yang tidak mendapat kursi karena nomor ujiannya terlewati dan tidak tertempel di kursi. Ppppfffhhh..Untunglah sudah sarapan nasi pecel, jadi masih bisa mengatasi masalah yang cukup bikin heboh itu.

Selesai ujian sesi satu, kekacauan rupanya belum berakhir. Ada miskoordinasi dengan panitia pembuat soal masalah istirahat peserta saat jeda ujian. Peserta yang seharusnya tetap di tempat duduknya sambil menunggu ujian selanjutnya, oleh panitia pembuat soal dibiarkan keluar. Tentu saja kami kewalahan mengatur peserta yang terlanjur berhamburan keluar ruangan. Kalau peserta sudah keluar ruangan, tentu akan susah mengenali peserta kembali (bisa saja kan yang masuk ruangan ketika ujian selanjutnya bukan peserta yang pertama alias diganti joki). Meskipun susah payah, akhirnya kondisi kacau tadi kembali dapat dikendalikan secara perlahan. Akhirnya..hari pertama ujian berakhir juga...Hhh..Alhamdulillah..

Malam harinya, kami (tim Surabaya) berencana mengelilingi kota Surabaya dan menjajal jembatan Suramadu. Hampir sama dengan Jakarta, Surabaya di malam hari dipenuhi warna warni lampu kota dan lampu kendaraan bermotor. Oleh karena tujuan utama adalah jembatan Suramadu, maka perjalanan dari hotel langsung menuju arah jembatan. Kesan pertama mengenai jembatan Suramadu adalah : gelap (secara ga ada lampu jalanan yang dinyalakan-atau malah belum dipasang). Pikir saya, jembatan pada malam hari merupakan pemandangan yang indah karena kilauan lampu-lampu hias yang dipasang. Jangan bayangkan indahnya Golden Bridge di San Fransisco..Meskipun agak mirip si arsitektur bangunannya dengan Golden Bridge itu..hehehe....Karena niat awalnya cuma melewati jembatan dan tidak singgah di Madura, maka kami segera kembali ke Surabaya begitu melihat U turn. Jembatan Suramadu ini satu-satunya jembatan dimana ada jalan tol untuk pengendara motor. Sistem jembatan ini memang menggunakan tarif tol (tidak seperti jembatan lainnya yang tinggal melintasi begitu saja). Tarif tol diberlakukan karena selain jembatan itu, ada sarana penyeberangan laut melalui kapal yang tentu saja mempunyai tarif khusus. Bisa dibayangkan klo melewati jembatan tidak dikenai tarif, tentu saja para penumpang kapal akan beralih melalui jalan darat semua. Tarif tol untuk jembatan pun lumayan mahal, Rp. 30.000 untuk kendaraan golongan 1, Golongan II Rp45.000, Golongan III Rp 60.000, Golongan IV Rp 75.000, dan Golongan V Rp 90.000, sedangkan Golongan VI (kendaraan roda dua) Rp 3.000 (www.suramadu.com)


Setelah kembali ke Surabaya, kami mengunjungi G Walk (pusat jajanan malam). Letaknya lumayan jauh dari pusat kota Surabaya (saya juga tidak tahu tepatnya di daerah mana^^). Sesampainya disana langsung saja mencari tempat makan yang kira-kira menjual makanan enak. Berhubung sudah lapar, saya lebih memilih makanan yang cepat disajikan dan akhirnya memilih Soto Lamongan sebagai menu makan malam (ada yang protes, "jauh-jauh ke Surabaya malah makan soto..Saya cuma nyengir. Padahal memang karena bingung mau makan apa, daripada kelamaan mencari-cari lebih baik yang ada didepan mata saja). Hh..akhirnya hari itu berakhir...

Ujian hari kedua, saya berharap semua lancar-lancar saja. Alhamdulillah, memang begitu..Hanya saja, hari ujian kedua waktunya sangat panjang karena ujian untuk D3 dan SMK dilaksanakan pada siang harinya. Entah karena sarapan kurang banyak atau pengaruh hormon saya merasa pusing. Mungkin juga karena akumulasi capek seminggu lalu. Pusing yang saya rasa cukup mengganggu aktivitas, alhamdulillah saya masih bisa bertahan. Saat tiba waktu istirahat makan siang, saya pikir dengan makan maka rasa pusing itu akan hilang. Ternyata dugaan itu salah. Pusing itu masih menyiksa hingga akhir ujian sekitar pukul 5 sore. Saya coba alternatif lain dengan berjalan-jalan sekalian cari oleh-oleh. Tetap saja gagal. Rasanya saya sudah ingin kembali ke hotel dan tidur. Tapi waktu menunggu berakhirnya ujian itu benar2 menyiksa : pusing berat, terlalu lama menunggu bikin BT juga, ditambah ketidakseimbangan hormon. Masya Allah...benar-benar menguji kesabaran..
Begitu ujian selesai dan saya diantar kembali ke hotel saya langsung tidur dan bangun jam 11 malam. Untunglah setelah tidur, pusing hilang dan badan kembali segar. Hmm..maaf buat yang merasa diabaikan selama saya berhibernasi..^^ bukan juga bermaksud membuat cemas. Padahal rencana malam itu Ibu dan tim Surabaya lain adalah jalan-jalan. Tapi..karena saya tidur, batal deh..Maaf ya...

The last day
Akhirnya tiba juga hari terakhir di Surabaya. Agenda hari itu adalah jalan-jalan seharian dan yang pertama yaitu mengunjungi counter tas yang cukup digemari kaum hawa (hitung-hitung membayar hutang karena tidur semalam,hehe..). Setelah puas melihat-lihat dan membeli (bukan saya loh..)perjalanan dilanjutkan ke suatu rumah makan (karena memang sudah waktunya makan siang). Letak rumah makan itu cukup jauh dari pinggir jalan. Ternyata rumah makan ini langganan salah satu anggota tim. Menu yang disajikan bervariatif namun bukan menu khas Jawa Timur melainkan Jawa Tengah. Rasa masakannya pun lumayan enak (maklum, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya karena saya bukan murid Pak Bondan Winarno^^. Yang penting bagi saya, makanan disebut enak jika bisa dimakan..hehehe). Selesai makan, kami meluncur menuju rumah sakit untuk menjenguk ibu teman satu tim kami yang kebetulan berkampung halaman di Surabaya.

Melihat bangunan rumah sakit yang tua, mengingatkan saya akan saat-saat profesi dulu (karena rumah sakit tempat saya menimba ilmu keperawatan praktik merupakan bangunan tua). Kadang, ada rasa kangen dan iri ketika bertemu dengan perawat-perawat rumah sakit dan teman-teman yang saat ini bekerja di rumah sakit. Kangen melayani dan merawat pasien dengan keunikan mereka masing-masing..kangen dengan dinas malam yang menyimpan banyak cerita..*sigh*..tapi sekarang bukan saatnya menyesali jalan yang sudah saya pilih. Semoga ilmu yang saya dapat ketika kuliah dan profesi dulu dapat bermanfaat suatu saat..Aamiin...(ehh..jadi OOT ni..^^)

Back to the main story, keadaan ibu teman saya cukup parah dan teman saya diijinkan cuti beberapa hari untuk merawat ibunya. Alhamdulillah keadaan beliau saat saya menulis kisah ini sudah lebih baik.

Perjalanan dilanjutkan menuju lokasi wisata lumpur terbesar (mungkin) yaitu lumpur Lapindo. Lokasi danau lumpur itu benar-benar mengenaskan. sejauh mata memandang hanya ada lumpur dan asap putih. Padahal dulunya merupakan pemukiman penduduk. Hmm..bagaimana para warga itu bertahan hidup dan harus memulai hidup baru? Seluruh harta benda terendam lumpur, sementara pemerintah pun rasanya tidak sigap menyelesaikan masalah ini. Ketidakpedulian pemerintah saat ini (tidak hanya kasus Lapindo namun juga kasus lainnya) benar-benar berbeda dengan gambaran ideal pemerintahan seharusnya. Sebenarnya siapa yang disebut wakil rakyat itu? apa sebenarnya tugas mereka? Apa mereka tidak mendengar jerit masyarakat yang kesusahan? Pfff..berat sekali tanggung menjadi seorang penguasa itu...(intermezo soal politik sedikit lah ya..)Sampai kapan harus begini?? Rakyat butuh diperhatikan, bukan hanay sekedar janji-janji manis (ingatlah janji itu hutang yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti dihadapan Tuhan)..

Suasana sekitar kubangan lumpur raksasa itu begitu sepi..yang terdengar hanya desiran angin bertiup (halah lebay amat..hehe) tapi emang beneran sepi si..dan tercium bau yang kurang sedap..(entah bau belerang atau apa, yang pasti si baunya bikin mual..). Oh ya, kenapa dibilang 'Wisata Lumpur?' sebab pengunjung yang hendak melihat lumpur dikenai tarif masuk seperti mau masuk ke lokasi wisata. Entah bertujuan untuk apa, tapi begitulah keadaannya.

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh di Kota Sidoarjo. Wow! Pusat jajanan itu memang super lengkap. Dari jajanan mentah (aneka jenis kerupuk mentah) hingga makanan matang (keripik, yangko, dan lainnya). Harganya pun cukup terjangakau dan tersedia jasa pembungkusan kardus jika anda berbelanja banyak. Wew..sulit juga memilih jenis oleh-oleh. Inginnya si beli semua, tapi harus dipikirkan juga bawaan bagasi nanti ditambah pula oleh-oleh yang lain. Jadi ya, dipilih makanan ringan dengan jumlah cukup untuk teman dan keluarga.

Perjalanan berakhir di kantor perwakilan. Sambil menunggu penerbangan, kami berpamitan dengan Kepala Perwakilan dan rekan-rekan di sana. Ketika waktu semakin mendekati jadwal penerbangan, kami pun segera berangkat ke bandara. Sesampainya di bandara, ternyata pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta mengalami keterlambatan selama 30 menit. Yah..terpaksalah menunggu...sambil berpikir, jam berapa saya akan tiba di Jakarta? terus jam berapa pula saya akan tiba di Depok? Yang pasti malam sekali. Apalagi keesokan harinya saya harus masuk kantor..wow..bisa dibayangkan capeknya?? :D

Akhirnya pesawat benar-benar datang jam 20:30 dan langsung meluncur menuju Jakarta dan tiba pukul 22:30 WIB. Wew..malam juga ya..Terpaksalah naik taksi ke Depok (mengingat bawaan saya yang banyak rasanya ga mungkin klo harus naik bis). Inilah perjalanan terberat (bukan soal medan jalannya, tapi lebih karena saya harus menahan kantuk selama perjalanan). Siapa yang tidak akan terus berusaha terjaga jika anda di Jakarta pada waktu hampir mendekati tengah malam kemudian menjadi penumpang taksi, sendiri pula. Bisa-bisa anda dibawa lari..(bukannya mo nakut-nakutin, tapi mencoba agar selalu waspada). Pfuih..tiba juga akhirnya di Depok pukul 23.30 malam...

Karena sudah lelah dan besok harus kerja, langsung deh tertidur (sebenarnya ga juga, cuma untuk mempersingkat cerita, saya tulis saja langsung tidur^^) setelah cuci muka dan sikat gigi..zzzzz....

Well..demikian kisah ini saya tulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari kisah ini..

Kalau saya dapat amanah lagi keluar kota, mudah2an ceritanya lebih seru dan lebih lengkap. Maaf juga klo ada kekurangan dari sisi penceritaan, detail cerita, maupun lainnya. Maklum, masih amatir..^^

Jakarta, 14 Desember 2009

0 comments:

Post a Comment