Wednesday, December 16, 2009

Cerita yang Tertunda



Kisah ini saya alami ketika sedang menjalani praktik profesi Maternitas di sebuah rumah sakit pemerintah di bilangan Jakarta Pusat. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari kisah ini.

Siang itu, cuaca sangat cerah. Saya agak lupa detail waktunya, kalau tidak salah sekitar bulan Maret atau April 2008. Saya dan teman satu kelompok mendapat giliran jaga sore. Kami berangkat dari Depok menuju rumah sakit dengan naik KRL jurusan Tanah Abang. Setibanya di rumah sakit, kami langsung menuju ruang rawat tempat kami praktik, kemudian melaksanakan tugas yang diberikan. Sepanjang siang hingga menjelang malam, keadaan ruang rawat dan ruang persalinan sangat tenang (sekadar informasi, ruang tempat kami bertugas merupakan ruang rawat pasca melahirkan dan terdapat pula ruang persalinan di bagian belakang). Menjelang pukul 4 datang seorang Ibu ke ruang persalinan, dengan keadaan sudah memasuki fase melahirkan. Si Ibu sedang terbaring di salah satu tempat tidur dan terlihat gelisah. Si ibu terus meringis karena merasa sudah waktunya untuk melahirkan. Si Ibu datang bersama seorang tetangganya. Ketika ditanya kemana suami si Ibu, sang tetangga menjawab ,"sedang bekerja, nanti juga datang." Kedatangan sang suami memang dibutuhkan untuk mengurus keperluan keringanan biaya rumah sakit. Rupanya si Ibu tergolong keluarga kurang mampu. Tapi keadaan ini tidak menghambat si Ibu mendapatkan pelayanan.

Waktu maghrib pun datang. Saya dan teman minta izin kepada perawat senior dan bidan yang ada di ruang rawat dan bersalin untuk sholat maghrib di masjid yang letaknya di lantai dasar. Sepuluh menit kemudian kami kembali ke ruangan. Baru saja kami memasuki ruangan menuju ruang persalinan, tiba-tiba terdengar bunyi 'duk!' yang sangat keras seperti ada yang jatuh dari dalam ruang persalinan . Langsung saya dan teman berlari menghampiri ruang tersebut, begitu pula dengan perawat dan bidan senior. Masya Allah..pemandangan yang sangat jarang terjadi di depan mata. Si Ibu rupanya terjatuh!! Keadaan seketika menjadi kacau. Genangan darah memenuhi lantai dan dengan cepat kami menggotong si Ibu kembali ke tempat tidur. Petugas cleaning service cepat dipanggil untuk membersihkan ruangan dan para senior segera mempersiapkan pertolongan. Selang infus langsung dipasang untuk mengalirkan cairan. Doppler segera diaktifkan guna mendengarkan denyut jantung janin dan kami membantu terus memantau tanda-tanda vital si Ibu dengan mengukur tekanan darahnya setiap 15 menit sekali.

Dalam keadaan seperti itu, si Ibu terus-terusan berkata, "gelap..saya ga bisa lihat apa-apa..". Saya dan teman hanya bisa menenangkan beliau, "bu, istighfar ya bu..tolong tetap terjaga, insyaAllah keadaan ini ga lama." Si Ibu tidak menjawab, namun terus berkata,"gelap..gelap.." dan kami pun terus menenangkan beliau.

Suara denyut jantung janin yang terdengar melalui Doppler sangat tidak beraturan. Para senior terus memantau keadaan ibu melalui pemberian cairan. Salah seorang senior menelepon ruang operasi agar segera dipersiapkan operasi caesar cito (darurat). Selagi ruangan operasi dipersiapkan keadaan ibu dan janinnya yang tidak stabil terus kami pantau. Kami juga mempersiapkan si Ibu agar bisa segera dibawa ke ruang operasi. Begitu staf ruang operasi menelepon, saya, teman, dan salah seorang senior segera membawa ibu yang terbaring lemah menuju ruang operasi. Kami berlari-lari menuju ruang operasi agar si Ibu tidak terlambat ditolong. Keadaan seperti itu (berlari-lari di lorong rumah sakit sambil mendorong tempat tidur pasien yang sedang gawat) biasanya cuma saya lihat di serial TV. Saya tidak menyangka bahwa hal itu akan terjadi pada saya. Akhirnya kami sampai di ruang operasi dan si Ibu segera masuk ruangan tersebut. Kami bernapas lega sambil berdoa semoga operasi bisa berjalan lancar dan Ibu dan anak bisa diselamatkan. Sambil perjalanan pulang ke ruangan, saya dan teman sedikit ngobrol dengan senior tentang kemungkinan yang akan terjadi pada si Ibu dan janinnya. Senior berkata, "semoga semuanya selamat."

Ketika kami kembali ke ruangan, jam dinding menunjukkan pukul 20:30 WIB yang artinya jam dinas sore saya sudah habis. Setelah operan dengan dinas malam, saya dan teman segera berganti pakaian dan pamit pada seluruh senior. Dalam perjalanan pulang ke Depok, saya dan teman hanya bisa diam. Entah apa yang sedang dipikirkan teman saya. Kami merasa sedih dengan keadaan si Ibu dan semoga Allah menolong mereka (Ibu dan janinnya)...

Keesokan paginya, saya dan teman kembali dapat giliran dinas sore. Kami penasaran dengan keadaan si Ibu dan kemudian mencari tahu bagaimana keadaannya saat ini. Begitu tahu ruangan beliau dirawat, kami segera menghampiri dan menanyakan keadaannya. "Alhamdulillah ibu sekarang sudah lebih baik. Tapi ibu kehilangan bayi ibu." Beliau bercerita dengan mata berkaca-kaca. Kami hanya bisa berkata, "sabar ya bu. InsyaAllah ini yang terbaik buat ibu dan si bayi. Mudah-mudahan ada pengganti yang lebih baik." Kami lantas bercerita kejadian kemarin yang sangat menghebohkan. Si Ibu mengiyakan, namun kata-kata beliau selanjutnya sungguh membuat saya terkejut, "saya masih ingat dengan suara mba-mba ini yang menenangkan saya. Terimakasih ya.."

Wow..kata-kata beliau benar-benar membuat kami terharu. Selama saya merawat dan melayani pasien baru kali ini saya mendengar kata yang begitu tulus terucap dari seorang pasien. Mungkin disinilah letak kepuasan sebagai seorang perawat menurut saya. Ketika rasa lelah mendera, penghargaan yang tulus dari pasien mampu menjadi penawarnya. Penghargaan tersebut juga mampu memberi semangat untuk terus memberikan yang terbaik bagi pasien.

Pelajaran yang bisa diambil dari kisah diatas (menurut saya) adalah ketika melakukan suatu pekerjaan hendaknya kita lakukan dengan penuh keikhlasan dan jangan pernah mengharapkan penghargaan apapun. Jika kita melakukan dengan ikhlas, insyaAllah Allah sudah menghitungnya sebagai pahala. Menolong sesama manusia pekerjaan yang mulia, sehingga harapkan balasan hanya dari sang Pencipta manusia.

Semoga kisah ini dapat menginspirasi teman-teman semua dan memberi semangat untuk terus memberikan yang terbaik bagi orang lain. Untuk rekan-rekan perawat khususnya, semoga dapat memberikan motivasi untuk terus meningkatkan pelayanan dan perawatan kepada pasien dan berkontribusi demi kemajuan dunia keperawatan Indonesia. ^^

0 comments:

Post a Comment