I'm drue
안녕하세요~ ..처음 뵙겠습니다^^
Home Visit Korea INSIST

감사~ Thank You...

3:11 PM
Syukur kuucapkan atas apa yang telah kucapai hingga hari ini, atas nikmat sehat yang telah Allah berikan. Bersyukur karena Allah orang tua yang selalu mendukungku, teman-teman yang selalu ada kala waktu senang dan susahku..

"그대를 만날수 있었던걸 하늘에 많이 감사해요" Semoga..ini yang terbaik..
Read On 0 comments

Hamas: Kontes "Miss Palestina" di Tepi Barat Sebuah "Lelucon"

2:14 PM
Tulisan berikut ini saya ambil dari eramuslim.com. Semoga bermanfaat bagi pembaca dan semoga semakin membuka mata akan cara halus yang digunakan kaum kafir dalam merusak generasi Muslim.


Kementrian urusan perempuan dari pemerintahan Hamas di jalur Gaza mengecam sebuah kontes untuk memilih "Miss Palestina" dan menganggap hal tersebut sebuah "lelucon" dan mereka tidak akan mengijinkan kontes itu terjadi di Palestina, khususnya jalur Gaza.

Perusahaan swasta Palestina "Fashion Trip" mengumumkan kontes tersebut, dan Salwa Youssef direktur dari perusahaan yang berbasis di Ramallah menyatakan bahwa "Kontes akan diadakan pada tanggal 26/12/2009 dengan partisipasi dari 58 kontestan, di antaranya 26 dari dalam wilayah Israel dan 32 kontestan berasal dari Tepi Barat."

Salwa mengatakan dalam konferensi pers, "200 gadis telah mengajukan diri untuk ikut berpartisipasi dalam kompetisi "miss Palestina", namun hanya 58 di antara mereka yang diterima," dan para pelamar telah menjalani pengujian oleh para spesialis dibidangnya.

Salwa Youssef mengatakan juga, "kami menghadapi beberapa kesulitan selama persiapan untuk kegiatan ini, sulit untuk meyakinkan banyak orang tentang ide ini, dan pertanyaan yang selalu ada mengenai apakah kontestan akan turut serta mengenakan pakaian renang atau tidak," Salam kemudian menambahkan: "Tentu saja para kontestan tidak akan kita minta untuk berpenampilan dengan pakaian renang, karena hal tersebut benar-benar bertentangan dengan sifat masyarakat Palestina yang tradisional".

Pihak panitia menyatakan bahwa para peserta yang akan berpartisipasi dalam kontes "Miss Palestina" itu akan dinilai oleh perwakilan dari Kementerian Penerangan Palestina dan Kementerian Kebudayaan yang dibawahi pemerintah otoritas Palestina, serta diharapakn akan dihadiri oleh lebih dari seribu orang yang telah diundang untuk menghadiri kompetisi.

Pemenang kontes akan menerima gelar sebagai "Miss Palestina" dan juga akan menjadi model pada sebuah pameran mobil di Ramallah, disamping itu mereka juga akan mendapatkan hadiah untuk berwisata ke Turki serta mendapatkan uang sebesar 2700 dolar AS.

Jatuhnya moral

Kementrian Urusan Perempuan dari Pemerintah Gaza menyatakan, "Pengumuman kontes ini adalah bagian dari strategi barat untuk menjatuhkan moral rakyat Palestina di depan mata dan telinga pemerintah otoritas Palestina di Ramallah."

Hamas lewat kementrian urusan perempuan - menyerukan kepada rakyat Palestina di Tepi Barat untuk menghentikan lelucon ini yang membahayakan reputasi dan budaya rakyat Palestina.

"Kami sepenuhnya sadar bahwa di balik perusahaan yang menyelenggarakan kontes ini adalah pemerintah di Ramallah yang ingin mengaburkan semangat Jihad rakyat Palestina yang dikenal dunia, seperti yang dibuktikan oleh partisipasi formal dari Departemen Informasi dan Kementerian Kebudayaan pemerintah otoritas Palestina di tepi barat".

Kementrian urusan perempuan Hamas menuntut pemerintah Ramallah harus berhenti bekerja sama dengan perusahaan "Fashion Trip" dan segera mengecek akuntabilitas dari Direktur perusahaan tersebut Salwa Youssef.

Dan meminta kepada para orang tua yang memiliki anak gadis untuk melarang mereka turut serta dalam kontes ini, karena kontes seperti itu bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar rakyat Palestina.

Dalam konteks terkait, Asosiasi Cendekiawan Palestina mengecam keras pengumuman kompetisi untuk pemilihan "Miss Palestina," sembari menyatakan bahwa kontest tersebut merupakan langkah yang akan menyia-nyiakan martabat perempuan, dan mendorong tindakan tidak bermoral dalam masyarakat Palestina dengan mendorong perempuan untuk menampilkan daya tarik mereka sebagai langkah menciptakan generasi yang jauh dari nilai-nilai moral dan kesopanan serta kerendahan hati dalam konteks pemeliharaan martabat perempuan Palestina.(fq/islammemo)

http://www.eramuslim.com/berita/palestina/hamas-kontes-miss-palestina-di-tepi-barat-lelucon-yang-tidak-lucu.htm
Read On 0 comments

Perjalanan Dinas Perdana Eps.2

8:03 AM
Hmm..akhirnya kesempatan melanjutkan kisah perjalanan perdana saya ke Surabaya tiba juga. Let's start..!

Kemarin cerita terhenti ketika saya dan si Ibu pulang ke hotel dalam keadaan hujan deras. Selama saya beberapa hari di Surabaya, cuaca selalu panas atau mendung namun tidak pernah turun hujan. Jadi, baru kali itu saya merasakan dinginnya Surabaya. Ternyata, sama saja dengan ibukota Jakarta, beberapa ruas jalan di Surabaya mengalami banjir (meskipun tidak sampai menenggelamkan kota, namun cukup membuat jalanan macet). Saya pikir,"Wah, banjirnya sama.." (^^).

Akhirnya setelah berjuang menerjang hujan dan macetnya jalanan, kami kembali ke hotel dengan selamat. Berhubung saya dan Ibu belum makan malam dan memang perut terasa sangat lapar (entah karena seharian mengatur kursi kemudian malam itu cuaca dingin :D)Jadilah akhirnya kami order makanan cepat saji (ga tahu juga kenapa ga order makanan hotel ^^). Selesai makan, langsung deh istirahat biar besok badan fit menghadapi hari pertama ujian.

Pagi hari tanggal 21 November 2009
Kami harus sampai di lokasi ujian jam 6 pagi karena ujian dimulai jam 8. Sesampainya di lokasi, halaman auditorium sudah penuh dengan peserta ujian dan beraneka macam pedagang. Wuih..ramee....
Setengah jam sebelum ujian dimulai, peserta dipersilakan memasuki ruangan kemudian mencari tempat duduknya. Satu hal yang bisa saya gambarkan tentang keadaan ini adalah : kacauuu..! Benar-benar kacau. Peserta ujian berseliweran kesana kemari mencari tempat duduknya. Belum lagi ternyata ada beberapa peserta yang tidak mendapat kursi karena nomor ujiannya terlewati dan tidak tertempel di kursi. Ppppfffhhh..Untunglah sudah sarapan nasi pecel, jadi masih bisa mengatasi masalah yang cukup bikin heboh itu.

Selesai ujian sesi satu, kekacauan rupanya belum berakhir. Ada miskoordinasi dengan panitia pembuat soal masalah istirahat peserta saat jeda ujian. Peserta yang seharusnya tetap di tempat duduknya sambil menunggu ujian selanjutnya, oleh panitia pembuat soal dibiarkan keluar. Tentu saja kami kewalahan mengatur peserta yang terlanjur berhamburan keluar ruangan. Kalau peserta sudah keluar ruangan, tentu akan susah mengenali peserta kembali (bisa saja kan yang masuk ruangan ketika ujian selanjutnya bukan peserta yang pertama alias diganti joki). Meskipun susah payah, akhirnya kondisi kacau tadi kembali dapat dikendalikan secara perlahan. Akhirnya..hari pertama ujian berakhir juga...Hhh..Alhamdulillah..

Malam harinya, kami (tim Surabaya) berencana mengelilingi kota Surabaya dan menjajal jembatan Suramadu. Hampir sama dengan Jakarta, Surabaya di malam hari dipenuhi warna warni lampu kota dan lampu kendaraan bermotor. Oleh karena tujuan utama adalah jembatan Suramadu, maka perjalanan dari hotel langsung menuju arah jembatan. Kesan pertama mengenai jembatan Suramadu adalah : gelap (secara ga ada lampu jalanan yang dinyalakan-atau malah belum dipasang). Pikir saya, jembatan pada malam hari merupakan pemandangan yang indah karena kilauan lampu-lampu hias yang dipasang. Jangan bayangkan indahnya Golden Bridge di San Fransisco..Meskipun agak mirip si arsitektur bangunannya dengan Golden Bridge itu..hehehe....Karena niat awalnya cuma melewati jembatan dan tidak singgah di Madura, maka kami segera kembali ke Surabaya begitu melihat U turn. Jembatan Suramadu ini satu-satunya jembatan dimana ada jalan tol untuk pengendara motor. Sistem jembatan ini memang menggunakan tarif tol (tidak seperti jembatan lainnya yang tinggal melintasi begitu saja). Tarif tol diberlakukan karena selain jembatan itu, ada sarana penyeberangan laut melalui kapal yang tentu saja mempunyai tarif khusus. Bisa dibayangkan klo melewati jembatan tidak dikenai tarif, tentu saja para penumpang kapal akan beralih melalui jalan darat semua. Tarif tol untuk jembatan pun lumayan mahal, Rp. 30.000 untuk kendaraan golongan 1, Golongan II Rp45.000, Golongan III Rp 60.000, Golongan IV Rp 75.000, dan Golongan V Rp 90.000, sedangkan Golongan VI (kendaraan roda dua) Rp 3.000 (www.suramadu.com)

Setelah kembali ke Surabaya, kami mengunjungi G Walk (pusat jajanan malam). Letaknya lumayan jauh dari pusat kota Surabaya (saya juga tidak tahu tepatnya di daerah mana^^). Sesampainya disana langsung saja mencari tempat makan yang kira-kira menjual makanan enak. Berhubung sudah lapar, saya lebih memilih makanan yang cepat disajikan dan akhirnya memilih Soto Lamongan sebagai menu makan malam (ada yang protes, "jauh-jauh ke Surabaya malah makan soto..Saya cuma nyengir. Padahal memang karena bingung mau makan apa, daripada kelamaan mencari-cari lebih baik yang ada didepan mata saja). Hh..akhirnya hari itu berakhir...

Ujian hari kedua, saya berharap semua lancar-lancar saja. Alhamdulillah, memang begitu..Hanya saja, hari ujian kedua waktunya sangat panjang karena ujian untuk D3 dan SMK dilaksanakan pada siang harinya. Entah karena sarapan kurang banyak atau pengaruh hormon saya merasa pusing. Mungkin juga karena akumulasi capek seminggu lalu. Pusing yang saya rasa cukup mengganggu aktivitas, alhamdulillah saya masih bisa bertahan. Saat tiba waktu istirahat makan siang, saya pikir dengan makan maka rasa pusing itu akan hilang. Ternyata dugaan itu salah. Pusing itu masih menyiksa hingga akhir ujian sekitar pukul 5 sore. Saya coba alternatif lain dengan berjalan-jalan sekalian cari oleh-oleh. Tetap saja gagal. Rasanya saya sudah ingin kembali ke hotel dan tidur. Tapi waktu menunggu berakhirnya ujian itu benar2 menyiksa : pusing berat, terlalu lama menunggu bikin BT juga, ditambah ketidakseimbangan hormon. Masya Allah...benar-benar menguji kesabaran..
Begitu ujian selesai dan saya diantar kembali ke hotel saya langsung tidur dan bangun jam 11 malam. Untunglah setelah tidur, pusing hilang dan badan kembali segar. Hmm..maaf buat yang merasa diabaikan selama saya berhibernasi..^^ bukan juga bermaksud membuat cemas. Padahal rencana malam itu Ibu dan tim Surabaya lain adalah jalan-jalan. Tapi..karena saya tidur, batal deh..Maaf ya...

The last day
Akhirnya tiba juga hari terakhir di Surabaya. Agenda hari itu adalah jalan-jalan seharian dan yang pertama yaitu mengunjungi counter tas yang cukup digemari kaum hawa (hitung-hitung membayar hutang karena tidur semalam,hehe..). Setelah puas melihat-lihat dan membeli (bukan saya loh..)perjalanan dilanjutkan ke suatu rumah makan (karena memang sudah waktunya makan siang). Letak rumah makan itu cukup jauh dari pinggir jalan. Ternyata rumah makan ini langganan salah satu anggota tim. Menu yang disajikan bervariatif namun bukan menu khas Jawa Timur melainkan Jawa Tengah. Rasa masakannya pun lumayan enak (maklum, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana rasanya karena saya bukan murid Pak Bondan Winarno^^. Yang penting bagi saya, makanan disebut enak jika bisa dimakan..hehehe). Selesai makan, kami meluncur menuju rumah sakit untuk menjenguk ibu teman satu tim kami yang kebetulan berkampung halaman di Surabaya.

Melihat bangunan rumah sakit yang tua, mengingatkan saya akan saat-saat profesi dulu (karena rumah sakit tempat saya menimba ilmu keperawatan praktik merupakan bangunan tua). Kadang, ada rasa kangen dan iri ketika bertemu dengan perawat-perawat rumah sakit dan teman-teman yang saat ini bekerja di rumah sakit. Kangen melayani dan merawat pasien dengan keunikan mereka masing-masing..kangen dengan dinas malam yang menyimpan banyak cerita..*sigh*..tapi sekarang bukan saatnya menyesali jalan yang sudah saya pilih. Semoga ilmu yang saya dapat ketika kuliah dan profesi dulu dapat bermanfaat suatu saat..Aamiin...(ehh..jadi OOT ni..^^)

Back to the main story, keadaan ibu teman saya cukup parah dan teman saya diijinkan cuti beberapa hari untuk merawat ibunya. Alhamdulillah keadaan beliau saat saya menulis kisah ini sudah lebih baik.

Perjalanan dilanjutkan menuju lokasi wisata lumpur terbesar (mungkin) yaitu lumpur Lapindo. Lokasi danau lumpur itu benar-benar mengenaskan. sejauh mata memandang hanya ada lumpur dan asap putih. Padahal dulunya merupakan pemukiman penduduk. Hmm..bagaimana para warga itu bertahan hidup dan harus memulai hidup baru? Seluruh harta benda terendam lumpur, sementara pemerintah pun rasanya tidak sigap menyelesaikan masalah ini. Ketidakpedulian pemerintah saat ini (tidak hanya kasus Lapindo namun juga kasus lainnya) benar-benar berbeda dengan gambaran ideal pemerintahan seharusnya. Sebenarnya siapa yang disebut wakil rakyat itu? apa sebenarnya tugas mereka? Apa mereka tidak mendengar jerit masyarakat yang kesusahan? Pfff..berat sekali tanggung menjadi seorang penguasa itu...(intermezo soal politik sedikit lah ya..)Sampai kapan harus begini?? Rakyat butuh diperhatikan, bukan hanay sekedar janji-janji manis (ingatlah janji itu hutang yang akan dimintai pertanggungjawabannya nanti dihadapan Tuhan)..

Suasana sekitar kubangan lumpur raksasa itu begitu sepi..yang terdengar hanya desiran angin bertiup (halah lebay amat..hehe) tapi emang beneran sepi si..dan tercium bau yang kurang sedap..(entah bau belerang atau apa, yang pasti si baunya bikin mual..). Oh ya, kenapa dibilang 'Wisata Lumpur?' sebab pengunjung yang hendak melihat lumpur dikenai tarif masuk seperti mau masuk ke lokasi wisata. Entah bertujuan untuk apa, tapi begitulah keadaannya.

Menjelang sore, kami melanjutkan perjalanan ke pusat oleh-oleh di Kota Sidoarjo. Wow! Pusat jajanan itu memang super lengkap. Dari jajanan mentah (aneka jenis kerupuk mentah) hingga makanan matang (keripik, yangko, dan lainnya). Harganya pun cukup terjangakau dan tersedia jasa pembungkusan kardus jika anda berbelanja banyak. Wew..sulit juga memilih jenis oleh-oleh. Inginnya si beli semua, tapi harus dipikirkan juga bawaan bagasi nanti ditambah pula oleh-oleh yang lain. Jadi ya, dipilih makanan ringan dengan jumlah cukup untuk teman dan keluarga.

Perjalanan berakhir di kantor perwakilan. Sambil menunggu penerbangan, kami berpamitan dengan Kepala Perwakilan dan rekan-rekan di sana. Ketika waktu semakin mendekati jadwal penerbangan, kami pun segera berangkat ke bandara. Sesampainya di bandara, ternyata pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta mengalami keterlambatan selama 30 menit. Yah..terpaksalah menunggu...sambil berpikir, jam berapa saya akan tiba di Jakarta? terus jam berapa pula saya akan tiba di Depok? Yang pasti malam sekali. Apalagi keesokan harinya saya harus masuk kantor..wow..bisa dibayangkan capeknya?? :D

Akhirnya pesawat benar-benar datang jam 20:30 dan langsung meluncur menuju Jakarta dan tiba pukul 22:30 WIB. Wew..malam juga ya..Terpaksalah naik taksi ke Depok (mengingat bawaan saya yang banyak rasanya ga mungkin klo harus naik bis). Inilah perjalanan terberat (bukan soal medan jalannya, tapi lebih karena saya harus menahan kantuk selama perjalanan). Siapa yang tidak akan terus berusaha terjaga jika anda di Jakarta pada waktu hampir mendekati tengah malam kemudian menjadi penumpang taksi, sendiri pula. Bisa-bisa anda dibawa lari..(bukannya mo nakut-nakutin, tapi mencoba agar selalu waspada). Pfuih..tiba juga akhirnya di Depok pukul 23.30 malam...

Karena sudah lelah dan besok harus kerja, langsung deh tertidur (sebenarnya ga juga, cuma untuk mempersingkat cerita, saya tulis saja langsung tidur^^) setelah cuci muka dan sikat gigi..zzzzz....

Well..demikian kisah ini saya tulis. Semoga ada manfaat yang bisa diambil dari kisah ini..

Kalau saya dapat amanah lagi keluar kota, mudah2an ceritanya lebih seru dan lebih lengkap. Maaf juga klo ada kekurangan dari sisi penceritaan, detail cerita, maupun lainnya. Maklum, masih amatir..^^

Jakarta, 14 Desember 2009
Read On 0 comments

Lesson of The Day

10:58 AM

Kematian memang misteri. Kita tidak akan pernah tahu kapan ia datang dan dengan cara bagaimana kita akan meninggalkan dunia yang penuh fitnah ini. Biasanya manusia akan ingat kematian jika ada seseorang yang dekat meninggal (entah itu orang tua, adik/kakak, kerabat, maupun sahabat).

Hari ini saya baru saja kehilangan (lagi) seorang teman (meski bukan teman dekat). Sosoknya mudah dikenali dan memang kadang menjadi bahan perbincangan (tentu bukan untuk bergosip yang tidak-tidak). Badannya yang sakit-sakitan kerap menjadi perhatian khusus bagi teman-teman. Mungkin Allah swt terlalu sayang padanya hingga memanggilnya pada usia 27 tahun, usia yang masih sangat muda terlebih lagi dia baru saja menapaki karir di salah satu instansi pemerintah.

Ketika saya dan teman-teman melihat wajahnya untuk terakhir kali dan berbincang sejenak dengan keluarganya, suasana duka itu begitu terasa. Di mata saya, sosok sang Ibu dan calon istrinya terlihat tegar walaupun air mata terus mengalir..Kejadian hari ini begitu membekas. Saya merasa diingatkan kembali bahwa kematian itu pasti datangnya. Kadang manusia terlalu sombong untuk sekadar merenungi hakikat hidup, bahwa hidup itu hanya sementara..hendaknya disikapi secara bijak.

Hmm..saya jadi merenungi pilihan untuk menon-aktifkan akun fb saya. Saya memang sedang jenuh dan berniat menghilang sejenak dari peredaran (memangnya planet^^) tapi...kejadian ini memberi suatu pelajaran baru bagi saya. Hidup kadang membuat penat dan jenuh, dan memang kadang pula butuh waktu menyendiri. Namun menurut saya, pilihan 'menghilang' bukan solusi tepat. Apalagi waktu memutuskan pilihan itu sedang sedang dilingkupi egoisme, jadi ketika keputusan telah diambil saya jadi menyesal. Seharusnya tidak seegois itu..seharusnya bisa menyelesaikan sendiri kejenuhan yang sedang melanda..tidak perlu melibatkan orang lain dalam masalah pribadi (meskipun kadang teman dibutuhkan).

Kejadian ini cukup membuka mata saya. Saya tidak perlu menghilang karena dapat memutuskan tali silaturahim (menurut saya loh ya..), hanya membuat cemas orang-orang yang peduli pada saya (kalau ada..^^). Memang si, menghilang itu memang kadang diperlukan, tapi rasanya perlu juga dilihat kapan waktunya. Saya pun menemukan cara mengatasi kejenuhan dan tidak perlu menghilang..hehehe...Cukup menekuni apa yang menjadi minat saya dan dengan sendirinya rasa jenuh itu menghilang..^^

Pelajaran hari ini adalah : manfaatkan waktu yang masih kita punya untuk melakukan sesuatu yang berguna, perlakukanlah teman-temanmu dengan baik, kumpulkanlah sebanyak-banyaknya dan sebaik-baik bekal untuk menghadap-Nya nanti..karena kita tidak akan pernah tahu kapan kita akan bertemu dengan Sang Pencipta kita..

Mengutip status fb seorang teman "Taat pada Allòh dan rosul-Nya adalah kunci kesuksesan hidup di dunia dan akhirat.. Segeralah pegang teguh keduanya, karena kita tidak tahu kapan dan dimana kita akan berpisah dengan dunia dan segala isinya.." Inilah sebaik-baik bekal..
Read On 0 comments

HAM dan Kebebasan

9:48 AM

Tulisan ini saya ambil dari insistnet.com. Semoga bermanfaat dan membuka wacana baru buat pembaca.


Masih ingat Lia Eden? Perempuan ini mendakwahkan dirinya sebagai Jibril Ruhul Kudus. Lia, yang mengaku mendapat wahyu dari Allah, pada 25 November 2007, berkirim surat kepada sejumlah pejabat negara. Kepada Ketua Mahkamah Agung RI, Bagir Manan, Lia berkirim surat yang bernada amarah. ”Akulah Malaikat Jibril sendiri yang akan mencabut nyawamu. Atas Penunjukan Tuhan, kekuatan Kerajaan Tuhan dan kewenangan Mahkamah Agung Tuhan berada di tanganku,” tulis Lia dalam surat berkop ”God’s Kingdom: Tahta Suci Kerajaan Eden”. Jadi, mungkin baru ada di Indonesia, ”Malaikat Jibril” berkirim surat dan ”ganti tugas” sebagai ”pencabut nyawa.”

Saat ditanya tentang status aliran semacam ini, MUI dengan tegas menyatakan, ”Itu sesat.” Mengaku dan menyebarkan ajaran yang menyatakan bahwa seseorang telah mendapat wahyu dari Malaikat Jibril, apalagi menjadi jelmaan Jibril adalah tindakan munkar yang wajib dicegah dan ditanggulangi. (Kata Nabi saw: ”Barangsiapa diantara kamu yang melihat kemunkaran, maka ubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, ubah dengan lisan. Jika tidak mampu, dengan hati. Dan itulah selemah-lemah iman”).

Tapi, gara-gara menjalankan tugas kenabian, mengeluarkan fatwa sesat terhadap kelompok Lia Eden, Ahmadiyah, dan sejenisnya, MUI dihujani cacian. Ada yang bilang MUI tolol. Sebuah jurnal keagamaan yang terbit di satu kampus Islam di Semarang menurunkan laporan utama: ”Majelis Ulama Indonesia Bukan Wakil Tuhan.” Ada praktisi hukum angkat bicara di sini, ”MUI bisa dijerat KUHP Provokator.” Sejumlah kelompok juga datang ke Komnas HAM meminta pembubaran MUI.

Dasar mereka untuk menghujat MUI adalah HAM dan kebebasan. Bagi kaum liberal, pasal-pasal dalam HAM dipandang sebagai hal yang suci dan harus diimani dan diaplikasikan. Dalam soal kebebasan beragama, mereka biasanya mengacu pada pasal 18 Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM), yang menyatakan: ”Setiap orang mempunyai hak kebebasan berpendapat, keyakinan dan agama; hak ini termasuk kebebasan untuk mengubah agamanya atau keyakinan, dan kebebasan baik sendiri-sendiri atau bersama-sama dengan yang lain dan dalam ruang publik atau privat untuk memanifestasikan agama dan keyakinannya dalam menghargai, memperingati, mempraktekkan dan mengajarkan.”

Deklarasi ini sudah ditetapkan sejak tahun 1948. Para pendiri negara Indonesia juga paham akan hal ini. Tetapi, sangatlah naif jika pasal itu kemudian dijadikan dasar pijakan untuk membebaskan seseorang/sekelompok orang membuat tafsir agama tertentu seenaknya sendiri. Khususnya Islam. Sebab, Islam adalah agama wahyu (revealed religion) yang telah sempurna sejak awal (QS 5:3). Umat Islam bersepakat dalam banyak hal, termasuk dalam soal kenabian Muhammad saw sebagai nabi terakhir. Karena itu, setiap aliran yang mengaku mempunyai nabi baru setelah Nabi Muhamamd saw, pasti dinyatakan sesat oleh kaum Muslim. Sehebat apa pun seorang Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khatab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, radhiyallahu ’anhum, mereka tidak terpikir sama sekali untuk mengaku menerima wahyu dari Allah. Bahkan, Sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq telah bertindak tegas terhadap para nabi palsu dan para pengikutnya.

Kebebasan beragama memang diakui oleh Islam. Tetapi, bukan berarti orang bebas sekehendak hatinya untuk merusak agama. Kebebasan beragama tidak berarti orang boleh berbuat apa saja dengan mengatasnamakan kebebasan, tanpa mempedulikan hukum. Pada 2009 ini, umat Islam di Swiss pun dilarang untuk membangun menara masjid. Dasarnya, sebuah referendum masyarakat. Kebebasan memang ada batasnya. Hak tidak bisa diaplikasikan begitu saja. Apalagi, bagi kaum Muslim. Hak dan kebebasan dibatasi oleh aturan-aturan Allah (syariat).

Membonceng HAM
Atas nama kebebasan dan HAM, sekelompok mahasiswa Fakultas Syariah di Semarang menyatakan dukungannya terhadap legalisasi perkawinan homoseksual dan lesbian di Indonesia. Tahun 2004, mereka menerbitkan sebuah Jurnal dengan judul sampul yang sangat provokatif : Indahnya Kawin Sesama Jenis. ‘’Hanya orang primitif saja yang melihat perkawinan sejenis sebagai sesuatu yang abnormal dan berbahaya. Bagi kami, tiada alasan kuat bagi siapapun dengan dalih apapun, untuk melarang perkawinan sejenis. Sebab, Tuhan pun sudah maklum, bahwa proyeknya menciptakan manusia sudah berhasil bahkan kebablasan,” tulis pengantar redaksi Jurnal ini.
Judul sampul yang sama mereka pakai untuk judul sebuah buku : Indahnya Kawin Sesama Jenis: Demokratisasi dan Perlindungan Hak-hak Kaum Homoseksual, (Semarang:Lembaga Studi Sosial dan Agama/eLSA, 2005). Buku ini secara terang-terangan mendukung, dan mengajak masyarakat untuk mengakui dan mendukung legalisisasi perkawinan homoseksual. Bahkan, dalam buku ini ditulis strategi gerakan yang harus dilakukan untuk melegalkan perkawinan homoseksual di Indonesia. Diantaranya : (1) mengorganisir kaum homoseksual untuk bersatu dan berjuang merebut hak-haknya yang telah dirampas oleh negara, (2) melakukan kritik dan reaktualisasi tafsir keagamaan (tafsir kisah Luth dan konsep pernikahan) yang tidak memihak kaum homoseksual, (3) menyuarakan perubahan UU Perkawinan No 1/1974 yang mendefinisikan perkawinan harus antara laki-laki dan wanita.” Buku ini diakhiri dengan sebuah Catatan Penutup: ”Homoseksualitas dan Pernikahan Gay: Suara dari IAIN.”

Pada 11 November 2009, di satu kampus Islam di Surabaya, digelar satu seminar bertajuk “Nikah Yes, Gay Yes!” Seminar dihadiri ratusan mahasiswa. Seorang pembicara disitu mengungkapkan, bahwa kaum Luth diazab bukan karena kasus homoseks, tetapi karena menghilangkan eksistensi Nabi Luth. Pendapat semacam ini juga lazim dikemukakan kaum homoseks di lingkungan Kristen. Tapi, pendapat semacam ini pun telah banyak menuai kecaman keras dari para tokoh Kristen.

Beberapa tahun belakangan ini, dengan membonceng isu HAM dan kebebasan, kaum liberal di Indonesia memang sangat gencar mensosialisasikan legalisasi perkawinan homoseksual. Jurnal Perempuan edisi Maret 2008 menurunkan edisi khusus tentang seksualitas lesbian. Seorang profesor yang juga dosen di UIN Jakarta ditampilkan wawancaranya dengan judul: ”Allah hanya Melihat Taqwa, bukan Orientasi Seksual Manusia”.

Menurut sang Profesor, definisi perkawinan adalah: ”Akad yang sangat kuat (mitsaaqan ghaliidzan) yang dilakukan secara sadar oleh dua orang untuk membentuk keluarga yang pelaksanaannya didasarkan pada kerelaan dan kesepakatan kedua belah pihak.” Tapi, makna pasangan, bagi profesor itu, boleh juga pasangan sesama jenis. Kata dia: ”Bahkan, menarik sekali membaca ayat-ayat Al-Qur’an soal hidup berpasangan (Ar-Rum, 21; Az-Zariyat 49 dan Yasin 36) di sana tidak dijelaskan soal jenis kelamin biologis, yang ada hanyalah soal gender (jenis kelamin sosial). Artinya, berpasangan itu tidak mesti dalam konteks hetero, melainkan bisa homo, dan bisa lesbian. Maha Suci Allah yang menciptakan manusia dengan orientasi seksual yang beragam.”

Sang profesor geram, sebab, ungkapnya lebih jauh: ”Dalam hal orientasi seksual misalnya, hanya ada satu pilihan, heteroseksual. Homoseksual, lesbian, biseksual dan orientasi seksual lainnya dinilai menyimpang dan distigma sebagai dosa. Perkawinan pun hanya dibangun untuk pasangan lawan jenis, tidak ada koridor bagi pasangan sejenis. Perkawinan lawan jenis meski penuh diwarnai kekerasan, eksploitasi, dan kemunafikan lebih dihargai ketimbang perkawinan sejenis walaupun penuh dilimpahi cinta, kasih sayang dan kebahagiaan.” Sebab, bagi sang profesor: ”Esensi ajaran agama adalah memanusiakan manusia, menghormati manusia dan memuliakannya. Tidak peduli apa pun ras, suku, warna kulit, jenis kelamin, status sosial dan orientasi seksualnya. Bahkan, tidak peduli apa pun agamanya.”

Sebagai sebuah negeri Muslim terbesar di dunia, umat Islam Indonesia kini menjadi sasaran paham dan gerakan liberalisasi secara besar-besaran. Pada 6-9 November 2006, berkumpullah 29 pakar HAM terkemuka yang berasal dari 25 negara. Mereka berhasil merumuskan ”The Yogyakarta Principles”, yang kemudian diundangkan secara internasional di muka sidang Human Rights Council’s PBB di Genewa, 26 Maret 2007. Bagi para pejuang legalisasi homoseksual, prinsip-prinsip Yogyakarta ini dianggap sebagai tonggak sejarah (milestone) perlindungan hak-hak bagi lesbian, gay, biseksual dan transgender.

Maka, jangan heran jika dengan membonceng isu HAM dan kebebasan, berbagai pemikiran dan gerakan yang destruktif terhadap Islam dan kaum Muslim, kini sengaja diluncurkan ke tengah masyarakat. Tentu saja, karena penegakan HAM telah menjadi program resmi dari pemerintah RI, maka umat Islam dan para pejabat Muslim perlu lebih berhati-hati dalam memilih dan memilah, mana ajaran-ajaran dan pemikiran yang merusak dan mana yang baik.

Lupakan Tuhan!
Meskipun tidak dinyatakan sebagai sebuah negara Islam, tetapi Indonesia adalah negara dengan mayoritas pemeluk Islam. Keberadaan dan kehormatan agama Islam dijamin oleh negara. Sejak lama pendiri negara ini paham akan hal ini. Bahkan, KUHP pun masih memuat pasal-pasal tentang penodaan agama. UU No 1/PNPS/1965 yang sebelumnya merupakan Penpres No 1/1965 juga ditetapkan untuk menjaga agama-agama yang diakui di Indonesia.
Bangsa mana pun paham, bahwa kebebasan dalam hal apa pun tidak dapat diterapkan tanpa batas. Ada peraturan yang harus ditaati dalam menjalankan kebebasan. Seorang pengendara motor tidak bisa berkata kepada polisi,, ”Bapak melanggar HAM, karena memaksa saya mengenakan helm. Soal kepala saya mau pecah atau tidak, itu urusan saya. Yang penting saya tidak mengganggu orang lain.”

Kaum Muslim yang masih memegang teguh aqidahnya, pasti akan marah membaca novel The Stanic Verses-nya Salman Rushdie. Novel ini sangat biadab; menggambarkan sebuah komplek pelacuran di zaman jahiliyah yang dihuni para pelacur yang diberi nama istri-istri Nabi Muhammad saw. Bagi Islam, ini suatu penghinaan. Bagi kaum liberal, itu dianggap kebebasan berekspresi, sehingga Salman Rushdie pun diberi penghargaan. Bagi kaum Muslim, kebebasan berekspresi dibatasi oleh aturan-aturan Allah.

Bagi kaum liberal, kebebasan berekspresi hanya dibatasi oleh ”rasa seni” dan kondisi sosial. Selama itu dianggap seni dan menampilkan ”keindahan”, maka itu dianggap boleh-boleh saja. Bahkan, dengan lantangnya, ada yang berani menantang: ”Tidak ada yang berhak mengatur tubuhku. Hanya aku yang berhak mengatur, karena ini tubuh-tubuhku sendiri!” Bagi manusia semacam ini, keberadaan aturan-aturan Tuhan dianggap menganggu kebebasannya. Bahkan, aturan Tuhan direkayasa, diubah-ubah, ditafsir ulang, agar cocok dengan hawa nafsunya.

Maka, supaya kebebasan hidupnya tidak terganggu, mereka mengajak agar manusia melupakan Tuhan. Buang Tuhan dari kehidupan, supaya manusia meraih kebebasan yang sempurna. Persis seperti apa yang dideklarasikan oleh filosof Perancis, Jean-Paul Sartre (1905-1980): ”even if God existed, it will still necessary to reject Him, since the idea of God negates our freedom.” (seperti dikutip Karen Armstrong dalam bukunya, History of God, 1993).
Padahal, al-Quran justru menegaskan sebaliknya: ”Ingatlah, dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang!” Dan siapa yang mengikuti petunjuk Allah, dijamin akan hidup bahagia di dunia dan akhirat. (***)

by Adian Husaini
http://insistnet.com/index.php?option=com_content&task=view&id=189&Itemid=54
Read On 0 comments

Tentang Drue

My Photo
d.R.u.E
I'm a simple person with simple life but have extraordinary gift and friends..^^
View my complete profile

My Favorit Korean Season

My Favorit Korean Season

Postingan


Cuap-cuap

Komen-komen